JUBA—Krisis di Sudan Selatan semakin menjadi. Setelah konflik dan perang saudara, kini kelaparan mulai melanda. Puluhan ribu orang di sana terancam mati karena kelaparan akut. Banyak di antara mereka yang hidup di rawa-rawa dan bertahan hidup dengan bunga air bunga lili dan memakan tulang kambing.
Jika tidak ditangani segera, 4,8 juta orang lainnya akan terancam. “Kondisi ini bisa menjadi bencana. Situasi ini mengerikan,” kata Direktur Mercy Corps, Deepmala Mahla, seperti dilansir Aljazeera, Kamis (15/9/2016).
Mahla mengatakan, kawasan yang mengalami dampak terburuk adalah negara bagian selatan. Di sana warga telah tinggal di rawa-rawa untuk bertahan hidup.
“Orang-orang di sana mencoba terus bertahan selama berminggu-minggu, mungkin juga berbulan-bulan hanya dengan meminum air bunga lili. Masyarakat juga memasak kulit dan tulang kambing karena tidak ada yang lain,” katanya.
Ia menegaskan, sekitar 40 ribu orang berisiko meninggal, kecuali tindakan cepat diambil.
“Tidak lama lagi, krisis ini bisa menjadi bencana. Kita berpacu dengan waktu,” tukasnya.
Di ibukota Juba, pedagang sayur harus memotong tomatnya menjadi dua saat menjualnya. Pasalnya, beberapa pelanggan tidak lagi mampu untuk membeli satu buah.
Krisis ini dipicu perang saudara yang telah berlangsung selama hampir tiga tahun. Selain menewaskan ribuan orang, konflik ini telah meruntuhkan ekonomi negara termuda di dunia ini. Inflasinya mencapai 661 persen, paling tinggi di dunia.




