TEPI BARAT – Bentrokan antara tentara Israel dan warga Palestina meradang setelah Trump mengumumkan pengakuan Yerusalem sebagai ibukota Israel.
Tentara Israel menembakkan gas air mata, peluru karet dan peluru kendali saat para pemrotes Palestina membakar ban dan melemparkan batu.
Sementara warga Palestina mengirimkan pesan kepada Presiden AS Donald Trump, di Tepi Barat dan Gaza yang diduduki, dengan membakar bendera AS dan meneriakkan klaim mereka ke kota suci tersebut.
“Dia membuat ini tentang satu sisi, mengambil pendapat orang Israel dan mengabaikan fakta tentang orang-orang Palestina,” kata Carla Birkat pada sebuah demonstrasi di Ramallah, dilansir BBC, Jumat (8/12/2017).
Di sekeliling, toko dan bisnis ditutup untuk melakukan demonstrasi massal, sementara sekolah dan universitas juga ditutup.
Sementara itu di jalan perbelanjaan yang ramai di Yerusalem Barat, orang Israel merasa senang dengan keputusan tersebuut. Mereka percaya bahwa AS secara formal mengakui kedaulatan Israel atas kota mereka telah mengoreksi ketidakadilan historis.
“Trump adalah orang yang dikirim oleh pemeliharaan ilahi, untuk mengatakan hal yang benar pada waktu yang tepat,” kata David Schreider.
Sebagai orang Yahudi Ortodoks, dia melihat kota itu sebagai “pusat Israel dan seluruh dunia” dengan adanya Temple Mount, tempat suci untuk orang Yahudi.
Tapi situs ini di Kota Tua juga merupakan tempat paling suci ketiga bagi umat Islam yakni Masjid al-Aqsa.
Kini, para pemimpin Palestina dan Arab panik dan berusaha untuk menopang konsensus internasional mengenai status Yerusalem.
Sementara itu, menteri Israel mendesak lebih banyak negara untuk mengikuti langkah Washington dan memulai langkah-langkah untuk memindahkan kedutaan mereka ke kota.