NAURU-Sedikitnya 2.000 peristiwa pelecehan dan kekerasan seksual serta upaya melukai diri sendiri terjadi di pusat penahanan pencari suaka Australia di Nauru sejak 2014 lalu.
Menurut bocoran dokumen yang dipublikasikan the Guardian Australia. Lebih dari separuh kasus tersebut melibatkan anak-anak.
Dokumen yang disiarkan pada Rabu (10/08/2016), menjelaskan kembali pelanggaran di pusat penahanan di pulau kecil Nauru, satu dari dua tempat penahanan yang dikelola Australia di kepulauan Pasifik Selatan.
Kamp dijaga ketat itu dan kebijakan garis keras imigrasi Australia terhadap pendatang gelap dikritik luas oleh PBB dan kelompok hak asasi.
Berdasarkan atas kebijakan Australia, pencari suaka yang dicegat di laut akan dikirim ke Nauru dan kamp lain di Pulau Manus di Papua Nugini serta tidak akan pernah ditempatkan di Australia.
Jumlah pengungsi dan pencari suaka yang mencoba mencapai Australia sangat kecil dibandingkan dengan Eropa, namun imigrasi sudah sejak lama menjadi isu hangat di Australia dan kebijakan imigrasi yang keras mendapat dukungan politik dari kedua partai.
Australia mengatakan tengah mencari kebenaran atas laporan yang ditangani oleh polisi Nauru. “Penting untuk dicatat bahwa banyak laporan-laporan insiden ini merefleksikan tuduhan yang tidak terkonfirmasi,” kata juru bicara Departemen Imigrasi Australia seperti dilaporkan Guardian.
Lebih dari 2.000 laporan insiden yang bocor dan dipublikasikan oleh Guardian meliputi periode antara Agustus 2013 dan Oktober 2015.
Jumlah anak-anak kurang dari 20 persen dari sekitar 500 tahanan di Nauru. Terdapat 59 laporan serangan terhadap anak-anak selama periode tersebut, dan tujuh laporan serangan seksual.
Beberapa laporan menduga adanya pelanggaran oleh penjaga terhadap anak-anak, serta laporan lain mengenai pelecehan seksual oleh pria tidak dikenal.
Laporan lainnya yang melibatkan anak-anak meliputi berbagai isu, mulai dari kecelakaan hingga kelakuan menyimpang.
Salah satu laporan insiden itu menyebutkan seorang anak “menulis dalam bukunya bahwa ia lelah, tidak menyukai kamp dan ingin mati … ‘Aku inginkan kematian, Aku butuh kematian.'”
“Jelas dari dokumen ini, dan riset kami, bahwa banyak dari mereka mengarah ke gangguan jiwa atau badan akibat perlakuan di Nauru,” kata Anna Neistat, direktur senior riset Amnesti Internasional.





