Rumah Adat Berbahan Kayu di Lombok Kokoh Meski Diterpa Gempa 7 SR

Tampak salah satu bangunan ruko yang rusak akibat gempa berkekuatan 7,0SR di Lombok, Minggu pukul 16.49 (5/8). Paling tidak 91 korban tewas, lebih 160 luka-luka

LOMBOK –  Relawan menyebutkan sejumlah rumah adat yang berbahankan kayu di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, masih kokoh berdiri meski diguncang gempa tektonik 7 Skala Richter (SR).

Relawan Yayasan Lingkungan Tanpa Batas Indonesia yang diketuai Sri Mulyani, Indriyatno kepada Antara di Jakarta, Sabtu (18/8/2018) malam mengatakan misalnya saja  rumah adat di Senaru dan Batu Layar.

Dosen Prodi Kehutanan Universitas Mataram menambahkan masyarakat Lombok itu memiliki kearifan budaya lokal ketika hidup di sekitar “ring of fire”. Namun hanya modernisasi membuat perubahan bentuk dan bahan rumah.

“Walaupun hidup di daerah bencana (rumah adat), mereka cukup dapat beradaptasi awalnya,” katanya.

Justru teman saya seorang relawan dari Belgia yang menyadarkan pentingnya rumah ekologi di daerah rawan bencana, katanya.

Terkait dengan biaya pembangunan rumah kayu itu, kata dia, jika dikombinasi dengan bambu, biayanya bisa lebih murah.

Ia memperkirakan biaya rumah kayu memakan biaya sekitar Rp30 juta sampai Rp40 juta. “Apalagi kalau pengerjaannya bergotong royong. Bisa untuk menata kampung sekaligus untuk tujuan destinasi wisata,” katanya.

Kendati demikian, dirinya akan berkonsultasi dengan arsitek, yang mungkin lebih mengetahui besaran biayanya.

 

Advertisement