Rusia Kewalahan Hadapi Ukraina

Pasukan Ukraina walau kalah dalam jumlah dan persenjataan, mampu mengimbangi kekuatan raksasa Rusia, berkat strategi yang tepat dan semangat juang tinggi serta aliran pasokan persenjataan dari AS dan Barat.

HINGGA hari ini, Kamis (22/9), sudah memasuki hari ke-211,  invasi atau disebut Operasi Militer Khusus Rusia ke Ukraina belum ada tanda-tanda akan usai, sementara korban kedua belah pihak terus berjatuhan.

Lebih 100-ribu personil, ratusan tank, artileri  dan pesawat tempur serta puluhan kapal perang dikerahkan oleh Rusia, dan tak henti-hentinya artileri, roket multi laras dan rudal-rudal diluncurkan ke sasaran di wilayah Ukraina, namun belum mampu menghentikan perlawanannya.

Sanksi embargo oleh AS dan sejumlah negara Uni Eropa,sebaliknya   pembatasan ekspor energi dan gandum dari Rusia dalam upaya menekan lawan juga menjadi bumerang bagi perekonomian Rusia sendiri.

Presiden Rusia Vladimir Putin pun, Rabu (21/9) memutuskan memobilisasi 300-ribu personil cadangan untuk menyongsong referendum yang akan digelar di wilayah Ukraina yang diokupasinya, Jumat (23/9) pekan ini.

Yang dimobilisasi adalah tentara cadangan yang pernah bertugas di dinas aktif AB Rusia, dan sebelum direkrut, mereka akan dibekali latihan terkait misi Operasi Militer Khusus.

Selain rekrutmen pasukan cadangan, Rusia juga menginstruksikan pimpinan perusahaan industri alat pertahanan untuk meningkatkan produksinya. Hal itu, kemungkinan juga akibat larangan impor peralatan pendukung industri persenjataan oleh pihak Barat.

Mobilisasi pasukan cadangan diumumkan Putin menjelang referendum yang akan digelar di empat wilayah Ukraina yang dikuasainya yakni Donetsk da Luhansk di Ukraina Timur dan Kherson dan Zaporishia di selatan yang seluruhnya mencakup 15 persen wilayah Ukraina yang penduduknya mayoritas etnis Rusia dan merebut hampir seluruh wilayah Luhanks Juni lalu.

Sebaliknya Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dan Kanselir Jerman Olaf Scholz menilai, pemilihan suara yang digelar Rusia merupakan referendum palsu.

Hal senada juga dilontarkan oleh Presiden Perancis Emanuel Macron yang menyebutkan  referendum tersebut sebagai parodi, sedangkan Penasehat Keamanan Nasional Gedung Putih Jake Sulivan menilainya sebagai penghinaan terhadap prinsip kedaulatan dan integritas teritorial.

Di medan tempur,  walau dari sisi anggaran, militer Ukraina di ranking ke-22 dengan anggaran sekitar 6,9 miliar dollar AS (sekitar Rp102,8 triliun) atau hanya sepersepuluh anggaran militer Rusia (61,7 miliar dollar AS) atau sekitar Rp919 triliun, sukar ditaklukkan.

Tenggelamnya kapal penjelajah rudal Rusia Moskwa, April lalu kemungkinan oleh roket berkecepatan tinggi (High Mobility Artilery Rocket System – HIMARS) buatan AS yang digunakan Ukraina, menunjukkan bahwa Rusia tidak bisa menganggap enteng lawannya.

Walau tidak menerjunkan pasukannya secara langsung, aliran persenjataan AS bersama sekutunya di NATO yang berada di belakang Ukraina, cukup merepotkan Rusia.

Rudal-rudal panggul anti serangan udara Stinger buatan AS atau Startreck buatan Inggeris, rudal antitank Javelin buatan AS dan  drone serang Bayrakhtar-2 buatan Turki sering menimbulkan bencana besar bagi personil dan tank-tank Rusia.

Tentu tak  hanya pasokan senjata dari luar, strategi yang tepat dan semangat juang yang tinggi, juga membuat tentara Ukraina yang kalah jauh dalam jumlah dan alutsista, bisa merepotkan tentara Rusia yang jauh lebih unggul dalam jumlah dan peralatan.