Saling Gertak di Semenanjung Korea

Korut secara intensif meluncurkan rudal-rudalnya ke perairan Jepang dan Korsel merespons latgab yang digelar AS, Jepang dan Korsel dalam waktu bersamaan.

PERANG antara negara serumpun Korea Utara dan Korea Selatan yang didukung Amerika Serikat  entah kapan bakal pecah, kecuali sejauh ini hanya sebatas saling gertak untuk menghangatkan suasana.

Dalam 10 hari terakhir ini, Korut paling tidak sudah meluncurkan tujuh rudal balistik ke arah wilayah Korsel dan Jepang merespons latihan gabungan yang digelar Korsel dan AS dalam beberapa bulan terakhir ini.

Dalam peluncuran rudal terbaru ke arah wilayah Jepang, menurut Kantor Berita Kyodo (4/10), rudal melintas di atas Pulau Honshu dan Pulau Hokkaido di titik ibukota negara matahari terbit itu, Tokyo dan jga kota besar Osaka.

Menhan Jepang Yasukazu Hamada mengemukakan, rudal yang ditembakkan kali ini berdaya jangkau lebih jauh dari jenis-jenis terdahulu yang pernah diluncurkan Korut.

Saat rudal diperkirakan akan melintas setelah ditembakkan dari situs peluncurannya di Mupyong-Ri, Korut dan jatuh di wilayah timur Jepang, seluruh layanan transportasi di Hokkaido dan sebagian Honshu dihentikan.

Peluncuran rudal tersebut dilakukan bersamaan dengan latgab yang digelar Korsel dan Jepang bersama mitranya, AS dalam dua bulan terakhir ini dengan fokus simulasi menghadang kapal selam musuh.

Bahkan pada Agustus lalu, pasukan ketiga negara termasuk satuan AS yang ditempatkan di Korsel melakukan latgab untuk menangkal dan melancarkan serangan balik terhadap Korut.

Sebaliknya, Korut merespons manuver-manuver ketiga lawannya dengan peluncuran rudal termasuk saat kapal induk AS USS Ronald Reagan sedang berada di perairan Korsel.

Presiden Korsel Yoon Suk Yeol mengingatkan erzim Pyongyang bawah peluncuran rudal tersebut melanggar resolusi DK PBB serta mengancam kedamaian dan ketenangan Semenanjung Korea.

Korsel dan Korut masih dalam status perang sejak Perang Korea yang berlangsung 1950 sampai 1953 diawali dengan serangan mendadak Korut ke ibukota Korsel, Seoul dan berakhir dengan dipukul mundurnya pasukan Korut oleh pasukan sekutu di bawah pimpinan AS

Perimbangan Militer

Dari segi belanja militer pada 2022, Korut sekitar 4,5 miliar dollar AS (Rp63,9 triliun), kalah jauh dengan Korsel dengan 46,5 miliar dolar (Rp657 triliun).

Berdasarkan catatan Global Firepower, Korsel menempati urutan ke-6 kekuatan militer global, dibandingkan Korut yang bertengger pada urutan ke-30.

Namun selain persenjataan konvensional, Korut diperkirakan juga memiliki antara 40 sampai 50 hulu ledak nuklir, konon bisa diluncurkan dengan rudal balistik antarbenua (ICBM) yang mampu menjangkau sebagian wilayah timur AS.

AB Korsel berkekuatan 625-ribu personil aktif plus3,75 juta cadangan, sedangkan Korut dengan 1,9 juta personil aktif ditambah 1,32 juta cadangan.

Di darat, Korsel diperkuat 2.624 tank, sebagian buatan AS seperti Abrams M1A atau Black Panther K-1 dan K-2 buatan lokal, 13.990 kendaraan lapis baja,   581 peluncur roket, sebaliknya Korut mengoperasikan 5.895 tank (T-34, T-62,T-72), 4.114 kendaraan lapis baja (a.l. BTR-50, BTR-60, BTR-70), semua eks- Uni Soviet, 1.298 artileri dan  1.510 peluncur roket.

Matra udara Korsel berkekuatan  1.595 pesawat, diantaranya 159 pesawat tempur buatan AS seperti F-15 Eagle dan F-16 Fighting Falcon seri terbaru serta F-35 Super Lightning II, 390-an pesawat multi peran seperti T-50 Golden Eagle buatan lokal serta 739 helikopter termasuk Apache AH-64 buatan AS.

Sebaliknya, AU Korut  mengoperasikan 349 pesawat, antara lain MiG-17, MiG-19, Mig-29 buatan peninggalan Uni Soviet serta 20-an helikopter.

Sementara AL Korsel memiliki 234 kapal perang,a.l. 12 destroyer, 11 korvet, 18 fregat, 22 kapal selam dan 111 kapal patroli, sedangkan Korut memiliki 450 kapal perang, a.l. lima fregat, 35 kapal selam dan selebihnya sekitar 200 kapal patroli.

Beberapa kali kedua negara bersama AS terlibat negosiasi perdamaian dengan Korut yang digelar di wilayah Zona Demiliterisasi Militer (DMZ) kedua negara, juga di Hanoi dan Singapura, namun berakhir jalan buntu.

Entah sampai kapan, ketegangan di Semenanjung Korea akan terus dipertahankan, padahal rakyat kedua negara sangat mendambakan hidup tenang dan perdamaian. (Kyodo/NS)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement