Senjata Nuklir, Malah Bikin Takut Perang

Ilustrasi pembom B-52 AS yang bisa mengangkut hulu ledak nuklir. Kesepakatan di Washington (4/1) antara lima kekuatan nuklir dunia (AS, Rusia, China, Inggeris dan Perancis) untuk tidak memulai serangan nuklir merupakan angin segar bagi penduduk dunia..

LIMA  negara pemilik  senjata pemusnah massal terbesar di dunia: Amerika Serikat, Rusia, China, Inggeris dan Perancis  sepakat untuk menghindari perang nuklir yang hanya akan menghancurkan dan meluluh-lantakkan semuanya.

“Menang jadi arang, kalah jadi abu,” demikian bunyi pepatah lawas. Jadi tidak ada yang diuntungkan dari perang nuklir, selain kehancuran, malapetaka, kerugian dan kematian.

Kelima wakil-wakil dari negara klub pemilik terbesar hulu ledak nuklir (nuclear warhead) yang juga anggota Dewan Keamanan PBB dalam pertemuan di Washington (5/1) sepakat untuk menghindari perang nuklir.

Selanjutnya, senjata nuklir yang ada dan dikembangkan nanti akan digunakan sebatas untuk pertahanan, tidak untuk menyerang negara lain atau lawan.

Menurut perkiraan Institut Penelitian Perdamaian Int’l Stockholm (SIPRI) pada 2021, kelima kekuatan nuklir terbesar global saat ini memiliki 13.000 kepala nuklir (AS: 5.550, Rusia: 6.255 Perancis: 290, Inggeris: 225  dan China: 350).

Dengan jumlah hulu ledak  atau kepala nuklir sebanyak itu, jika terjadi perang, tidak pelak lagi, semua pihak yang terlibat bakal hancur lebur, juga negara-negara lain yang tidak ikut, tetap terkena imbasnya.

Di luar kelima negara itu, masih ada Korea Utara yang diperkirakan memiliki 40 sampai 50 hulu ledak nuklir, India sekitar 156, Pakistan 165 dan Israel 90 dan Iran yang berusaha mengembangkannya.

Jubir Kemlu Rusia Maria Zhakarova kepada kantor berita TASS menyebutkan, pertemuan tersebut dimungkinkan atas prakarsa Moskwa sebagai tindak lanjut pembicaraan antara Presiden Rusia, Vladimir Putin dan Presiden AS Joe Biden di Jenewa, Juni 2021.

Dalam pertemuan di Swiss tersebut, menurut Maria, kedua kepala negara membahas Perjanjian Nonproliferasi Nuklir (NPT) 1968 yang memuat rencana bertahap pelucutan nuklir oleh kelima negara itu dan seruan agar negara di luarnya tidak mengembangkan senjata nuklir.

Penggalan isi kesepakatan kesepakatan pertemuan Washington sebagai berikut: ”Perang Nuklir tidak dapat dimenangi (oleh siapa pun-red). Penggunaan nuklir memiliki konsekuensi amat luas sehingga kami menegaskan, senjata nuklir yang ada hanya boleh digunakan untuk tujuan defensif demi mencegah agresi dan peperangan”.

Ide Mikhail Gorbachev

Pemikiran bawa tidak ada pemenangnya yang keluar dalam perang nuklir dicetuskan oleh Presiden Uni Soviet terakhir Mikhail Gorbachev yang disambut baik oleh Presiden AS Ronald Reagan.

Menurut catatan, AS dan Soviet melakukukan kesepakatan tentang pembatasan senjata strategis (Strategic Arms Reduction Treaty (START) pada 31 Juli 1991 yang berlaku pada 3 Januari 1993, sedangkan sebelumnya juga sudah dilakukan rangkaian pertemuan untuk membahas kesepakatan pembahasan senjata strategis (SALT) antara 1967 – 1972.

Lahirnya kesepakatan Washington merupakan angin segar, paling tidak bisa dijadikan acuan  untuk menghindari perang nuklir yang menjadi malapetaka umat manusia jika tak terelakkan.

Namun sayangnya, NPT dan juga kesepakatan Washington tidak melibatkan lima negara lain yang juga sudah memiliki senjata pemusnah massal nuklir dan juga Iran yang sedang berusaha mengembangkannya.

Jika pengembangan senjata nuklir bisa dihambat, apalagi dihentikan sama sekali, tentu dana yang tersedia bisa dialokasikan untuk meningkatkan kesejahteraan umat manusia.

 

 

 

 

Advertisement