BANDUNG – Seorang remaja warga Kampung Babakan Desa, Desa Pamekaran, Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung, Ilham Dwiguna Pangestu, yang berusia 19 tahun hanya memiliki bobot badan 19 kg.
Putra pasangan Dedi Irawan (41) dan Heni Merinda (39) ini memiliki berat badan yang kurang dari berat normal kebanyakan remaja di usianya setelah dia mengalami kejang saat berusia satu tahun.
Sang ibunda Heni mengatakan, menceritakan kondisi putra sulungnya itu berawal ketika mengalami deman dan kejang-kejang ketika berusia satu tahun. “Sejak itu, pertumbuhan Ilham terhambat dan seperti kaku,” ujarnya saat ditemui di kediaman mereka.
Ilham pun tak bisa beraktivitas layaknya remaja lain. Sehari-hari, ia hanya bisa berbaring di tempat tidur atau menonton televisi di ruang tamu rumah kontrakan keluarganya.
Bahkan menurut Heni demam dan kejang terus dialami Ilham hingga sekarang, dan sudah sering membawa dia ke dokter tetapi tidak intensif karena keterbatasan biaya. “Awalnya kata dokter Ilham mengalami kerusakan pada pembuluh darah otaknya,” tutur Heni.
Kerusakan itu tidak sampai merusak syaraf penglihatan dan pendengaran Ilham. Namun kemampuan Ilham untuk memahami bahasa lisan terganggu, sehingga ia tak bisa berkomunikasi dengan baik dan sampai kini hanya bisa merengek dan menangis seperti bayi.
Kondisi ini, kata Heni, diperparah dengan kondisi tubuh Ilham yang tak bisa tumbuh normal. “Setelah berkonsultasi dengan dokter, ternyata ada pengaruh dari gizi buruk juga,” ucapnya.
Heni mengakui bahwa ia dan suaminya memang tak bisa memberi asupan nutrisi yang memadai untuk Ilham akibat kondisi ekonomi ketika itu. Bahkan saat demam dan kejang kembali mendera, Heni pun hanya sesekali membawa Ilham ke dokter dan sisanya menempuh pengobatan alternatif dengan biaya yang relatif lebih ringan.
Beruntung, Ilham mendapat perhatian dari pemerintah Kabupaten Bandung sejak tiga bulan lalu. Bantuan kursi roda dari Dinas Sosial pun kini membuat Heni bisa membawa Ilham berjalan-jalan di sekitar rumah kontrakannya setiap pagi.
Pemerintah Desa Pemekaran sendiri kini tengah membantu proses pembuatan akta kelahiran untuk Ilham yang sejak lama tak bisa dilakukan oleh orangtuanya. Padahal akta itulah yang selama ini menjadi kendala bagi Heni untuk mendaftarkan Ilham ke program Jaminan Kesehatan Nasional dari Badan Penyelenggaran Jaminan Sosial (JKN-BPJS) Kesehatan.
“Dulu saya sempat membawa Ilham berobat dengan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM), namun fasilitasnya terbatas. Untuk daftar BPJS mandiri tidak ada biaya dan Ilham tak memiliki akta kelahiran,” ujar Heni, seperti dilansir Pikiran Rakyat, Rabu (9/1/2019).





