NEWYORK (KBK) – Serangan di Paris yang menewaskan 129 orang dan melukai 352 lainnya telah mengirimkan gelombang kejutan ke seluruh dunia, banyak negara meningkatkan keamanan dan memperketat pemeriksaan bagi pengungsi.
Amerika Serikat sendiri yang dituduh memiliki peran dalam kekacauan di Suriah, Senin (16/11/2015), juga memberlakukan pemeriksaan keamanan yang ketat terhadap pengungsi Suriah.
“Para pendatang harus tunduk pada pemeriksaan keamanan tingkat tertinggi dari setiap kategori, termasuk wisatawan ke Amerika Serikat,” kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Mark Toner kepada media.
“Kami pikir kami dapat melakukannya dengan aman dan dengan cara yang mencerminkan nilai-nilai Amerika,” tambahnya.
Di hari yang sama, beberapa gubernur AS mengancam akan berhenti menerima pengungsi Suriah. Serangan di Paris, membuat para gubernur itu menjadi cemas dan curiga kepada pengungsi Suriah. Mereka mengkhawatirkan teroris menggunakan status sebagai pengungsi untuk menyelinap memasuki perbatasan.
“Salah satu teroris yang terlibat dalam serangan Paris ditemukan memiliki paspor Suriah, dan kemungkinan masuk ke negara itu dengan status pengungsi,” kata polisi Prancis.
Pentagon mengumumkan di hari yang sama akan meningkatkan kerjasama intelijen dengan militer Perancis, ungkap juru bicara Pentagon, Peter Cook.
Seperti dilaporkan Xinhua, Selasa (17/11/2015), banyak negara Eropa juga dengan segera mengumumkan pengontrolan ketat terhadap perbatasan, tidak lama setelah serangan tersebut.




