
SEJUMLAH siswa dengan prestasi cemerlang termasuk yang memenangi
berbagai kejuaraan olimpiade sains tidak diurus dan dimanfaatkan dengan baik oleh negara, padahal mereka diperlukan dalam menyongsong revolusi industri 4.0.
Pada 2015 saja tercatat 10 siswa SMA yang berhasil meraih medali emas di ajang olimpiade, enam diantaranya di berbagai bidang sains yakni Joandy Leonata Pratama (SMA Sutomo I Medan), Rafif A. Salam (SMAN I Bogor), M. Ayaz Dzulfikar (SMA YPP Bontang), Maria Patricia (SMA Kharisma Bangsa, Tangsel), Andito Jeremia (SMAN 8 Jakarta) dan Abdel Hafiz (SMAN I Padang Pariaman).
Empat lagi meraih medali emas bidang penelitian aneka sains yakni Krissanti Putrika Adiwijaya (SMA Stela Duce Yogyakarta ), A Habib Almutawakkil dan Prasetyo Langgeng Utomo (SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo), Dinda Clarissa dan Klarina Elsa Sarah (SMA Kharisma Bangsa, Tangsel), Irham Syarif dan Ahmad Abrar (SMAN I Bantaeng).
Pada 2016 Michael Gilbert (SMK BPK Penabur Cirebon) dan Wilson Gomarga (SMAK Ipeka Jakarta) meraih medali emas bidang sains.
Sedangkan pada 2017 Dean Fanggohan (SMAN 8 Pekanbaru, Gery Widiarto (SMAN MH Thamrin Jakarta), Ferris Prima Hutama (SMA Penabur, Gading Serpong), Agnes Natasya (SMA BPK Penabur, Kelapa Gading, Jakarta), Iqbal Hakim Ardiansyah SMA Labschool Jakarta dan Rifki Andika (SMAN 2 Depok) yang semuanya menjuarai bidang sains.
Pada April 2018, Pelajar SMA Taruna Nusantara, Magelang, M Firman Nuruddin (17) – anak buruh serabutan – (17) meraih medali emas pada ajang International Conference of Young Scientist (ICYS), bersaing dengan 400 siswa dari 35 negara.
Prestasi paling membanggakan a.l. tercatat diraih Jonathan Pradana Mailoa pada 2006, menyabet medali emas sebagai absolut winner (juara dunia) di ajang International Physic Olimpiad (IPhO).
Sementara Situs Tim Olimpiade Biologi Indonesia (TOBI) mencatat, sepanjang 2000 – 2016, siswa Indonesia meraih 10 medali emas, 25 perak dan 20 perunggu di ajang riset di Mc Govern Institute for Brain Research, Massachussets Institute of Technology dan Swiss Federal Institute of Technology di Zurich.
Kurangnya perhatian pemerintah, a.l. tercermin dari kisah anggota Tim Olimpiade Matematika Indonesia 2002 Ainun Najib (32) yang memilih berkarier di Singapura karena kecewa, setelah lulus SMA ia cuma ditawari bebas masuk ITB, tanpa beasiswa, padahal ia berasal dari keluarga tidak mampu.
Ainun kemudian ditawari beasiswa untuk kuliah dan bebas memilih fakultas di Nanyang Technical University (NTU), Singapura asal lulus tes, kemudian setelah lulus, terikat kontrak kerja tiga tahun dengan perusahaan di sana .
Bermukim tujuh tahun di negeri “Singa” dan berpindah-pindah kerja dari IBM, Traveloka, kemudian Grab Singapura, Ainun mengaku, sekitar separuh dari 30-an peserta Olimpiade Mathematika angkatannya, kuliah di NTU.
Berbeda dengan Ainun, peraih medali perunggu Olimpiade Internasional Informatika (IOI) 2007 Brian Marshal, selepas SMA, mengambil tawaran NTU melalui jalur khusus dan setelah lulus terikat selama tiga tahun.
Brian kemudian berkarier di perusahaan PricewaterhouseCoopers (PwC) Singapura pada 2011, dan dua tahun kemudian kembali ke tanah air untuk mendirikan Sirclo, perusahaan rintisan penyedia jasa pembuatan situs toko daring.
Menurut Ainun, berkembang pesatnya usaha rintisan di Indonesia , membuat sejumlah anak cerdas dan peraih olimpiade memilih pulang dan membangun karier di tanah air.
Peluang membangun usaha start up atau bekerja di perusahaan, menurut Ainun, terbuka lebar, namun ia menyayangkan, “tidak ada tempat” bagi para olimpian yang berminat menjadi akademisi di Indonesia.
“PTN di Indonesia tidak mau memberikan tempat, “ ujarnya geram.
Mungkin apa yang diungkapkan Ainun menyakitkan, tetapi selayaknya pemerintah memberikan perhatian lebih dan mengurus siswa cerdas dan para olimpian tersebut yang merupakan aset bangsa. (Kompas/NS)




