Akhirnya, Sulami ‘Manusia Kayu’ Dapat Perawatan Khusus di Rumah Sakit

Sulami/ Solopos

SOLO – Sulami, si ‘manusia kayu’ yang bertubuh kaku seperti mannequin akhirnya dirawat di RSUD dr. Moewardi Kota Solo sejak Rabu (25/1/2017) dan ditangani tim khusus.

Diketahui wanita 35 tahun warga Dusun Selorejo, Desa Mojokerto, Kedawung, Sragen, Jawa Tengah  tersebut sudah menderita penyakit langka  selama 10 tahun lamanya dan untuk melakukan aktivitas sehari-hari ia dibantu sang nenek.

Kondisinya menajdi viral di media sosial setelah banyak organisasi sosial yang mneyebarkan informasi dan menggalang dana untuk kesembuhan Sulami.

Dokter spesialis penyakit dalam RSUD dr. Moewardi yang menangani Sulami, Arif Nurudin, mengungkapkan, berdasarkan pemeriksaan awal Sulami mengalami kelainan berupa autoimun. “Ini terjadi ketika sistem kekebalan tubuh justru menyerang sel-sel sehat,” ungkap Arif, Kamis (26/01/2016), seperti diberitakan metrotvnews.
(Baca Juga: Derita Penyakit Langka, Sulami Bertubuh Kaku Seperti ‘Mannequin’ )

“Belum ada obat untuk menyembuhkan. Obat-obatan hanya untuk mengurangi efek dan progresivitas,” tambahnya.

Bagian yang diserang pada kasus Sulami adalah persendian. Sulami mengalami peradangan tulang belakang dan sendi atau dalam istilah medis dinamakan ankylosis spondylitis. Kekakuan sendinya disebabkan ankylosis spondylitis menyerang jaringan ikat sendi.

“Selain itu, peradangan lama-kelamaan membuat ruas tulang belakang menyatu seperti dahan pohon bambu. Maka kelainan ini sering disebut juga dengan istilah bamboo spine,” papar Arif.

Dokter juga mengatakan Sulami mengalami pengerasan pada bagian kulit. Tim khusus dokter RS Moewardi menargetkan setidaknya Sulami dapat menekuk kaki serta duduk. Untuk upaya ini, tim akan berkoordinasi dengan dokter-dokter Rumah Sakit Orthopedi Prof. Dr. Soeharso.

Arif menjelaskan, Sulami akan mendapatkan perawatan secara intensif. Salah satu obat yang digunakan untuk mengurangi progresivitas penyakit adalah biologic agent. Setidaknya butuh satu hingga enam kali pengobatan dalam kurun waktu dua minggu.

“Obatnya memang cukup mahal. Sekali tindakan kurang lebih bisa memerlukan biaya Rp6 juta hingga Rp8 juta,” urainya. Selama pengobatan, tim khusus bakal mengevaluasi hasil tindakan secara rutin hingga kaki Sulami bisa digerakkan.

Advertisement