Swedia dan Finlandia Merapat ke NATO

Aliansi Pertahanan Atlantik Utara (NATO) sedang memproses Swedia dan Finlandia yang ingin menjadi anggotanya. Potensi ancaman dari pihak lain mendorong satu negara bergabung dengan aliansi tertentu.

DUA negara di wilayah Skandinavia atau Eropa utara yakni Swedia dan Finlandia tinggal selangkah lagi untuk bergabung menjadi anggota Aliansi Pertahanan Atlantik Utara (NATO).

Ditambah dengan dua negara lagi, jadi total beranggotakan 32 negara, NATO jelas semakin kuat, sebaliknya Rusia yang menjadi potensi lawan harus gigit jari, dikepung oleh potensi musuh-musuhnya di daratan Eropa.

“Ini benar-benar moment bersejarah. Dengan 32 negara anggota, kita makin kuat, “ kata Sekjen NATO Jens Stoltenberg  dalam acara penandatanganan protokol aksesi Swedia dan Finlandia di Mabes NATO di Brussel, Selasa (5/7).

Melalui protokol aksesi tersebut, kedua negara bakal mendapatkan akses lebih besar pada sistem intelijen NATO sebelum sepenuhnya diproses menjadi anggota penuh dalam waktu sekitar setahun.

Sebaliknya, bergabungnya Swedia dan Finlandia yang semula dikenal sebagai negara netral, merugikan Rusia, mengingat pasca runtuhnya Uni Soviet, negara-negara sempalannya seperti Lithuania, Latvia dan Estonia membelot ke NATO.

Tak hanya itu, negara-negara satelit di era Soviet dalam Pakta Warsawa seperti Albania, Bulgaria, Ceko, Hongaria dan negara eks-Yugoslavia (Kroasia, Makedonia Montenegro, Slovenia, Makedonia Utara), Polandia dan Rumania, juga  menyeberang ke NATO.

Rencana Ukraina merapat ke NATO juga salah satu yang membuat Rusia berang dan menginvasinya, selain alasan untuk menyatukan kelompok speratis Ukraina berbahasa dan asal etnis Rusia di wilayah Donbas (Luhansk dan Donetsk).

Sistem Pertahanan Kolektif

Proses penerimaan Swedia dan Finlandia dalam NATO berbarengan dengan program penguatan sistem pertahanan kolektif NATO di kawasan Eropa Timur sebagai bagian konsep strategisnya.

Program tersebut antara lain mencakup kesepakatan anggotanya meningkatkan jumlah pasukan reaksi cepat dari 40.000 menjadi 320.000 personil.

AS juga berkomitmen meningkatkan kehadiran pasukannya di Eropa, juga kehadiran armada  AL-nya di Rota, Spanyol, skadron pesawat tempur F-35 di Inggeris, kesatuan darat di Rumania serta unit pertahanan udara di Jerman dan Itali juga di sekitar Laut Baltik.

Rencana masuknya Swedia dan Finlandia serta penguatan sistem pertahanan kolektif NATO, membuat gusar Presiden Rusia Vladimir Putin.

Putin mengultimatum agar NATO tidak membangun fasilitas militer di Swedia dan Finlandia, karena hal itu merupakan ancaman bagi Rusia yang harus direspons dengan ancaman yang sebanding.

Sementara proses bergabungnya Swedia dan Finlandia dalam NATO tidak mulus karena dihadang Turki yang meminta kedua negara tidak melindungi kelompok dan tokoh-tokoh separatis Kurdi yang berada di sana termasuk ulama Fetullah Gulen yang dituduh terlibat kudeta 2016.

Berdasarkan kesepakatan NATO, penerimaan anggota baru hanya dimungkinkan dengan persetujuan seluruh negara  anggotanya. SIkap Turki kemudian melunak setelah mendapat jaminan dari kedua negara.

Penghimpunan kekuatan oleh kelompok-kelompok negara yang bertikai diharapkan akan membuat takut lawannya memulai perang, mengingat dengan kepemilikan senjata pemusnah massal saat ini, jika terjadi perang, yang tercipta hanya kerusakan dan   bencana bagi umat manusia.

Yang kalah jadi arang, yang menang jadi abu!  (AP/AFP/Reuters)

 

 

 

 

 

 

,

Advertisement