Taliban Bangkit Lagi

Milisi Taliban yang berkuas di Afghanistan 1996 - 2001 bangkit lagi setelah tentara AS mulai menarik diri sejak Mei 2021.

TALIBAN  dalam kampanye lanjutan sejak awal penarikan   pasukan Amerika Serikat dan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) Mei lalu dilaporkan telah merebut distrik kunci di Provinsi Kandahar, Afghanistan, Minggu (4/7).

Satuan AS dan NATO sendiri, menurut AFP,  dua hari sebelumnya (2/7) telah mengosongkan Pangkalan Udara Bagram, sebelah utara ibukota, Kabul yang semula dijadikan basis kekuatan pasukan sekutu terhadap posisi-posisi Taliban dan Al-Qaeda selama dua dekade.

Pasukan rezim pemerintah Afghanistan bentrok selama bertahun-tahun melawan milisi Taliban di sekitar Distrik Panjwai, Prov. Kandahar yang  ingin merebutnya mengingat posisinya yang strategis, dekat ibukota provinsi.

Kandahar sendiri merupakan basis dan tempat kelahiran Taliban yang kemudian memerintah Afghanistan dengan pemberlakuan hukum syariah Islam sampai digulingkan oleh invasi pimpinan AS pada 2001.

Gubernur distrik Panjwai Hasti Mohammad mengatakan, pasukan Afghanistan terpaksa mengundurkan diri dari wilayah itu setelah bentrok dengan milisi Taliban sepanjang malam.

“Taliban telah merebut markas polisi distrik dan gedung kantor gubernur,” katanya kepada AFP.

Pertempuran dilaporkan pulatelah berkecamuk di sejumlah provinsi Afghanistan dalam beberapa pekan terakhir dan Taliban mengklaim telah merebut lebih dari 100 dari hampir 400 distrik di negara itu.

Sebaliknya, para pejabat Afghanistan membantah klaim Taliban tersebut dan hanya mengakui, pasukan pemerintah telah mundur dari beberapa distrik.

Sementara pihak berwenang Afghanistan yang telah mengambil alih pangkalan itu mengatakan mereka akan menggunakannya untuk memerangi terorisme, dan telah mengaktifkan kembali sistem radar.

Keandalan Pasukan Pemerintah

Setelah Taliban mampu merebut puluhan distrik dalam dua bulan terakhir ini banyak pihak meragukan kemampuan tentara pemerintah mempertahankan Kabul tanpa dukungan pasukan asing walau Presiden AS Joy Biden berjanji membantu.

Jubir pemberontak Suhail Shaheen menyatakan, merebut pangkalan militer bukanlah prioritas mereka, namun dia menegaskan, tidak boleh ada tentara asing yang masih bertahan di ibu kota pasca-kesepakatan penarikan.

“Jika mereka masih meninggalkan tentaranya dan melanggar perjanjian Doha, kami akan menyerahkannya kepada pimpinan,” kata Shaheen.

Pertempuran berkecamuk di sejumlah provinsi Afghanistan dalam beberapa pekan terakhir dan Taliban mengklaim telah merebut lebih dari 100 dari hampir 400 distrik di negara itu.

Sebaliknya, para petinggi Afghanistan membantah klaim Taliban tersebut, dan hanya mengakui,  pasukan pemerintah telah mundur dari beberapa distrik.

Hengkannya pasukan asing pimpinan AS dari pangkalan udara Bagram, utara Kabul, memicu kekhawatiran bahwa pemberontak Taliban akan  meningkatkan kampanye mereka untuk merebut wilayah baru Afghanistan.

Pangkalan Udara Bagram memiliki arti penting secara militer dan simbolis besar bagi pemerintah Afghanistan mengingat  pasukan asing yang sebelumnya ditempatkan di sana menawarkan dukungan udara penting dalam perang melawan pemberontak.

Pihak berwenang Afghanistan telah mengambil alih pangkalan itu mengatakan mereka akan menggunakannya untuk memerangi terorisme, dan telah mengaktifkan kembali sistem radar.

Kelompok Taliban yang dibentuk September 1994 adalah gerakan nasionalis Islam Sunni pendukung Pashtun yang secara efektif menguasai hampir seluruh wilayah Afghanistan  sejak 1996 sampai 2001.

Semula Taliban didukung oleh Amerika Serikat dan Pakistan serta  diakui oleh Uni Emirat Arab dan Arab Saudi, namun dikecam Dewan Keamanan PBB karena aksi-aksi kejahatan  yang dilakukan terhadap warga negara Iran dan Afahanistan.

Rezim Taliban (1996 – 2001) digulingkan oleh AS karena dianggap  melindungi pemimpin Al Qaeda, Osama Bin Laden yang juga dituduh Washington mendalangi serangan di WTC, New York, l 11 September 2001.

Tanpa dukungan AS dan negara-negara Barat, pasukan pemerintah  harus berjuang sendiri melawan Taliban. Waktu akan menentukan nanti, nasib Afghanistan ke depannya. (AFP/ns)

 

 

 

 

Advertisement