Tanah Longsor Mengintai, Waspada!

Ilustrasi/Ist

MASYARAKAT yang tinggal di wilayah rawan longsor agar terus mewaspadai kemungkinan bencana alam itu karena peringatan dini masih terkendala minimnya peralatan pendeteksi.

“Kita tidak pernah tahu, kapan dan dimana persisya longsor akan terjadi, sehingga tidak bisa segera dilakukan evakuasi, “ kata peneliti dari Pusat Penelitian Geologi Lembaga Pengatahuan Indonesia (LIPI) di Jakarta, Adrin Tohari, Selasa (13/2).

Dalam acara kumpul media bertema “Hasil Penelitian LIPI untuk Mencegah Longsor” itu, menurut Adrin, sejauh ini baru terpasang 150 detektor longsor, padahal dibutuhkan ribuan lagi.

Risiko bencana longsor, kata Adrin, bisa diminimalisir jika detektor longsor sudah terpasang di kawasan yang sudah diketahui tingkat kerawanannya, namun untuk itu diperlukan dana yang besar bagi pengadaannya.

Akibatnya, BNPB hanya mampu sebatas memberikan informasi tentang lokasi daerah rawan longsor, sehingga dituntut insiatif pemerintah daerah untuk mengalokasikan anggaran bagi pengadaan alat deteksi longsor.

LIPI saat ini jugasedang mengembangkan sistem terpadu mulai dari pencegahan dengan teknologi Gravitasi Ekstraksi Air Tanah untuk Kestabilan Lereng dan pemantauan ancaman hingga sistem peringatan dini longsor dengan teknologi jaringan sensor nir-kabel.

Alat sensor tersebut berfungsi untuk mendeteksi pergerakan tanah, peningkatan muka air tanah dan intensita curah hujan yang mampu menyampaikan peringatan dini di tanah dalam mau pun dangkal di kawasan yang luas.

Di tengah musim penghujan yang diprakirakan sampai awal Maret nanti, kesiapsiagaan masyarakat terutama di kawasan rawan longsor dituntut, mengingat musibah hidrometerologi termasuk longsos kerap terjadi.

Selama sepekan terakhir ini saja terjadi longsor di sejumlah kawasan di Puncak dan lintasan KA di Cigombong, Bogor, di Minahasa Selatan dan Pekalongan, dan sejak Januari tercatat 19 orang tewas di berbagai lokasi akibat bencana alam tersebut.
Tetaplah waspada!

Advertisement