RAKHINE – Pemerintah Myanmar menutup tiga kamp-kamp pengungsi di negara bagian Rakhine yang bermasalah seperti yang direkomendasikan komisi yang dipimpin mantan Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan.
Selasa (11/4/2017), Penasihat Keamanan Nasional untuk Presiden Myanmar, Thaung Tun mengatakan pemerintah daerah dan serikat memfasilitasi kembalinya dan relokasi beberapa orang termasuk 215 keluarga Rohingya, yang telah berlindung di tiga kamp pengungsi di negara bagian Rakhine selama hampir lima tahun.
“Tiga kamp-kamp pengungsi di Sittwe, Kyauk Phyu dan Ramree akan ditutup segera,” katanya kepada diplomat internasional di bekas ibukota, Yangon, seperti dilaporkan Anadolu Agency.
Langkah tersebut dilakukan atas rekomendasi komisi yang meminta Myanmar menutup kamp-kamp pengungsian untuk menurunkan ketegangan etnis di Rakhine.
Sejak pertengahan 2012, telah terjadi serangkaian insiden kekerasan komunal antara etnis Rakhine Buddha dan Rohingya yang telah membuat sekitar 100 orang tewas dari 120.000 pengungsi di kamp-kamp yang sebagian besar dihuni anggota minoritas Rohingya.
Myanmar telah lama menghadapi kecaman internasional karena penganiayaan terhadap minoritas Muslim Rohingya di negara itu di negara bagian Rakhine.
Masalah ini mencapai titik didih dalam beberapa bulan terakhir setelah militer melancarkan tindakan keras berdarah di bagian utara Rakhine berikut pembunuhan geng sembilan petugas polisi di perbatasan pos-pos polisi razia pada bulan Oktober tahun lalu.
Dewan Hak Asasi Manusia PBB memutuskan bulan lalu untuk mengirim misi pencari fakta internasional untuk Myanmar untuk menyelidiki kekejaman terhadap Muslim Rohingya.





