JAKARTA – Namanya Waras. Selama 20 tahun warga Trenggalek, Jawa Timur, ini bekerja sebagai pekerja migran di pabrik onderdil, Korea Selatan.Ketika masa kerjanya habis ia bersiap pulang ke Tanah Air. Namun Waras mencium peluang lain ketika Universitas Terbuka (UT) Korea Selatan dibuka tahun 2011.
“Saya masuk UT umur 40 tahun, sekarang 44 tahun. Di situ, semua mahasiswa umurnya di bawah 25 tahun,” ujar Waras yang berangkat ke Korea Selatan sebagai TKI berbekal ijazah SMEA Islam Durenan, Trenggalek.
Selama di UT, Waras mengambil kuliah sistem tutor seminggu sekali karena terbentur waktu bekerja di pabrik 12 jam per hari. Bagi Waras tantangan terberatnya adlaah ketika ia harus kuliah sehabis kerja shift malam.
“Kerja dimulai pukul 20.00 sampai pukul 08.00 esoknya saya usahakan istirahat total satu jam 30 menit. Pulang kerja, siap-siap mandi dan otomatis langsung berangkat ke kampus. Saya biasanya tidur di bus dan kereta menuju kampus,” ungkap Waras seperti dilansir BBC Indonesia (16/8).
Minggu lalu Waras diwisuda sebagai sarjana manajemen, bersama 10 pekerja migran lain yang menamatkan kuliah di Universitas Terbuka (UT) kelompok belajar Korea Selatan. Sepulannya ke Indonesia Waras ingin membuka peluang usaha dan lapangan kerja di bidang kuliner.
“Dari mulai kenal sekolah, saya memang suka dengan pendidikan. Ketika kecil saya hidup di musala dan masjid, karena ingin pengetahuan. Tapi karena orang tua dan (faktor) biaya, (saya) berhenti (sekolah). Tapi saya tidak putus asa dan alhamdulilah saya bisa lulus di UT Korea Selatan,” ucap Waras.





