UNHCR: Rohingya Terus Pertaruhkan Nyawa untuk Menyelamatkan Diri

Ratusan ribu rohingya peringati dua tahun genosida/ Reuters

JENEWA – Sebuah laporan terbaru PBB mengatakan pengungsi dari Asia Tenggara, banyak dari mereka adalah anggota minoritas Rohingya Myanmar, terus mempertaruhkan nyawa mereka untuk mencapai keselamatan.

Laporan yang dirilis pada hari Selasa (1/10/2019)  oleh badan pengungsi PBB (UNHCR) mengatakan satu orang di setiap 69 pengungsi dan pencari suaka yang memulai perjalanan laut tahun lalu di wilayah itu meninggal atau hilang di laut.

Angka tersebut naik dari rasio satu dari setiap 81 antara 2013 hingga 2015, di puncak krisis pengungsi dan migran Asia Tenggara di Laut Andaman.

“Selama akar penyebab perpindahan tidak terselesaikan, para pengungsi akan terus merasa harus melakukan perjalanan berbahaya untuk mencari keselamatan bagi diri mereka sendiri dan keluarga mereka,” ungkap Direktur UNHCR untuk Asia dan Pasifik Indrika Ratwatte.

Dia mengimbau negara-negara di kawasan itu untuk menyediakan “jalur tertib dan aman” untuk mengurangi bahaya bagi para pengungsi dan pencari suaka.

Sementara jumlah keseluruhan orang yang melakukan perjalanan telah menurun, tingkat kematian telah meningkat, dan antara Januari dan Juni tahun ini, 15 lebih banyak orang telah tewas ketika mencoba menyeberangi laut dan sungai.

“Namun, laporan yang dikonfirmasi hanya puncak gunung es mengingat sebagian besar mayat tidak pernah ditemukan dan banyak orang hilang tidak pernah dilaporkan,” kata UNHCR, dilansir Aljazeera.

Pada tahun-tahun sebelumnya, penyelundup manusia harus disalahkan atas sebagian besar kematian, karena pemukulan, luka tembak atau kekurangan makanan dan air selama perjalanan.

Tetapi UNHCR menegaskan, sejak 2018, penyebab utama kematian atau lenyapnya di laut adalah karena kapal tenggelam, dengan banyak kapal tanpa awak profesional dan tidak dibangun untuk atau diperlengkapi untuk membuat perjalanan panjang aman bagi para pengungsi.

Advertisement