LAMPUNG – Warga Desa Way Muli Timur, Lampung Selatan mengatakan Gunung Anak krakatau mengeluarkan ratusan kali letusan dalam sehari.
Samaun, warga Desa Way Muli Timur mengatakan erupsi yang dikeluarkan GAK terbanyak pada malam hari, bahkan sejak terjadinya bencana tsunami, GAK lebih sering mengeluarkan erupsi dari biasanya.
Dampak dari erupsi yang dikeluarkan GAK seperti debu vulkanik, sebarannya belum sampai wilayah daratan Lampung Selatan, namun yang dirasakan oleh warga sekitar hanya berupa getaran.
“Kalau debu belum, mungkin karena anginnya juga ke arah sana (barat). Tapi kalau getarannya terasa seperti kaca rumah bisa bergetar akibat erupsi yang dikeluarkan GAK,” kata dia, dikutip Antara.
Beberapa warga Lampung pada 25 dan 26 Desember juga mendengar suara gemuruh. Demikian pula warga yang masih bertahan di Pulau Sebesi, gugusan pulau di Selat Sunda yang dekat dengan GAK.
Kepala Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau di Hargopancuran, Kecamatan Bakauheni, Lampung Selatan, Andi Suardi, juga menyatakan suara gemuruh hingga Rabu dini hari masih terdengar dari GAK.
BMKG bersama Badan Geologi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus memantau aktivitas GAK dan dampaknya serta meminta warga tetap tenang namun waspada.





