LARANTUKA – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa sejumlah wilayah di 10 kabupaten di Nusa Tenggara Timur (NTT) sedang mengalami kondisi siaga bencana kekeringan meteorologis.
Kepala Stasiun Klimatologi BMKG, Rahmattulloh Adji, mengatakan bahwa wilayah-wilayah yang berada dalam status siaga kekeringan mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) selama lebih dari 31 hari dengan peluang di atas 70 persen.
Peringatan dini ini diberikan oleh BMKG sebagai respons terhadap kondisi kekeringan meteorologis di wilayah NTT.
Adji menyebutkan beberapa wilayah kecamatan yang berstatus siaga bencana kekeringan, antara lain Alor Barat Daya dan Pantar Tengah di Kabupaten Alor, Amfoang Tengah dan Amfoang Utara di Kabupaten Kupang, serta Elar di Kabupaten Manggarai.
“Selain itu, terdapat juga wilayah Riung dan Riung Barat di Kabupaten Ngada,” kata Adji, dilansir dari Antara, Kamis (15/6/2023).
Wilayah lain yang berada dalam status siaga bencana kekeringan meliputi Landu Leko, Rote Barat, Rote Barat Laut di Kabupaten Rote Ndao, Raijua di Kabupaten Sabu Raijua; Lamboya, Loli, Tana Righu, dan Wanokaka di Kabupaten Sumba Barat; serta Kodi, Kodi Balaghar, Kodi Bangedo, Kodi Utara, Loura, Wewewa Selatan, Wewewa Barat, Wewewa Tengah, dan Wewewa Utara di Kabupaten Sumba Barat Daya.
Selain itu, terdapat juga wilayah Katiku Tana, Katiku Tana Selatan, Mamboro, Umbu Ratu Nggay, dan Umbu Ratu Nggay Barat di Kabupaten Sumba Tengah, serta wilayah Haharu, Kambata, Mapang Buhang, Kota Waingapu, Lewa, Lewa Tidahu, Mahu, Ngadu Ngala, Ngaha Ori Angu, Rindi, dan Wulla Waijelu di Kabupaten Sumba Timur.
Adji mengimbau kepada penduduk di berbagai kecamatan tersebut untuk meningkatkan kesiapsiagaan terhadap ancaman bencana kekeringan yang berdampak pada berbagai sektor, seperti sektor pertanian dengan sistem tadah hujan.
Dia menyarankan para petani untuk mengantisipasi kekeringan dengan memilih tanaman yang sesuai atau tidak membutuhkan banyak air untuk ditanam, sehingga peluang mendapatkan hasil yang baik menjadi lebih tinggi.
Kekeringan juga menyebabkan penurunan persediaan air tanah, yang mengakibatkan kelangkaan air bersih. Oleh karena itu, Adji mengingatkan warga untuk menghemat penggunaan air bersih agar persediaan yang ada dapat memenuhi kebutuhan.
Selain itu, ia juga mengingatkan warga untuk mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan menghindari tindakan-tindakan yang dapat memicu timbulnya titik api di area terbuka yang terdapat tumpukan daun atau rumput kering yang mudah terbakar.





