
KEMENANGAN Partai Likud pimpinan mantan PM Benyamin Netanyahu (73) dalam pemillu parlemen Israel yang digelar di Jerusalem, Rabu (2/11) merupakan signal buruk bagi kubu Palestina.
Likud yang merupakan partai konservatif negara Yahudi itu seperti dilaporkan Jerusalem Post (3/11) meraih 32 kursi dari total 120 kursi di parlemen (Knesset), sedangkan mitranya, kubu ultranasionalis sayap kanan, Partai Yesh Atid pimpinan Yair Lapid, 24 kursi.
Berdasarkan hasil penghitungan suara, kubu Netanyahu bersama koalisinya akan mampu mengumpulkan 65 kursi di Knesset sehingga dengan jumlah itu dipastikan ia menjabat PM lagi untuk periode berikutnya.
Likud adalah satu-satunya partai yang mampu meraub lebih satu juta suara alam pemilu legislatif yang digelar Rabu lalu, dan saat ini diberikan waktu 42 hari untuk membentuk koalisi pemerintahan.
Netanyahu dikenal sebagai tokoh garis keras Israel terhadap Palestina saat ia menjadi PM sebelumnya, pada perode 1996 – 1999 dan 2009 – 2021 tercermin dari kebijakannya terus memperluas pemukiman Yahudi di wilayah pendudukan Palestina.
Netanyahu yang bekas anggota pasukan elit Israel Sayeret Matkal yang legendaris tersebut tidak lepas dari kontroversi setelah ia sebelumnya diduga terlibat sejumlah kasus korupsi.
Sejumlah tokoh calon mitra koalisi Likud yang anti Palestina seperti Itamar Ben-Gvir yang diduga mengincar jabatan Menteri Keamanan Umum yang membawahi kepolisian bahkan mewacanakan pencabutan kewarganegaraan Israel bagi etnis non Yahudi.
Tokoh ekstrim lainnya, Bezalel Yoel Smotrich yang berkali-kali menyatakan niatnya untuk merombak peradilan Israel yang dianggapnya tidak mendukung Judaisme dilaporkan juga mengincar jabatan menteri keuangan atau menteri kehakiman.
Netanyahu siap Berkompromi
Kubu Netanyahu sejauh ini terindikasikan bersedia memberikan kursi kabinet yang diminta kedua tokoh tersebut sehingga pemerintahan baru Israel nanti diperkirakan bakal lebih keras lagi pada Palestina.
Sementara Presiden Palestina Mahmoud Abbas mengingatkan koleganya di Liga Arab, perkembangan baru di Israel menunjukkan adanya upaya serius untuk menghapus berbagai jejak peradaban selain Yahudi.
Pesan senada juga disampaikan oleh Presiden Aljazair Abdelmajid Tebboune kepada Liga Arab, sedangkan Putera Mahkota Jordania Pngeran Husein bin Abdullah mengatakan, solusi “Dua Negara” harus terus didorong bagi solusi isu Palestina.
“Tugas kita, negara-negara Arab, meningkatkan komunikasi dengan dengan dunia internasional guna melanjutkan proses perdamaian dan meneguhkan bangsa Palestina pada cita-citanya, “ ujarnya.
Yang jelas, kemenangan Netanyahu akan membuat bangsa Palestina menghadapi jalan terjal menuju kemerdekaannya.
(AFP/Reuters/ns)




