
HARGA minyak dunia sempat menyentuh level tertinggi dalam empat tahun sebelum akhirnya bergerak fluktuatif pada perdagangan akhir pekan.
Seperti dilaporkan Kompas.com, Kamis (29/4) kontrak minyak mentah Brent untuk Juni sempat melonjak hingga 126,41 dollar AS per barrel, level tertinggi dalam empat tahun terakhir.
Namun, harga minyak kemudian terkoreksi dan ditutup di posisi 114,01 dollar AS per barrel. Memasuki perdagangan Jumat (1/5) waktu AS, kontrak Brent untuk pengiriman Juli kembali menguat 1,11 persen ke level 111,63 dollar AS per barel.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk Juni naik 0,45 persen menjadi 105,54 dollar AS per barel.
Dilansir dari dari CNBC, kenaikan harga minyak ini terjadi seiring Presiden AS Donald Trump menghadapi tenggat waktu 60 hari dari Kongres terkait kewenangan perang (War Powers Resolution) dalam konflik dengan Iran.
Berdasarkan undang-undang tahun 1973 tersebut, presiden wajib menarik pasukan dalam waktu 60 hari sejak memberi notifikasi kepada Kongres, kecuali ada persetujuan untuk melanjutkan operasi militer.
Hingga kini, Kongres belum memberikan persetujuan tersebut. Namun, pemerintahan Trump berargumen bahwa gencatan senjata yang dicapai tiga minggu lalu telah “mengakhiri” permusuhan antara kedua pihak.
Dengan demikian, Gedung Putih menilai tidak perlu meminta persetujuan Kongres untuk melanjutkan keterlibatan militer.
Seorang pejabat pemerintah menyebut, tidak adanya baku tembak langsung antara pasukan AS dan Iran sejak gencatan senjata disepakati pada 7 April membuat hitungan 60 hari tersebut tidak lagi berlaku.
“Untuk tujuan War Powers Resolution, permusuhan yang dimulai pada Sabtu, 28 Februari, telah berakhir,” kata pejabat tersebut.
Argumen ini sebelumnya juga disampaikan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dalam sidang di Komite Angkatan Bersenjata DPR AS, dengan menyebut gencatan senjata secara efektif telah menghentikan perang.
Menurut catatan, AS bersama Israel melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari 2026, dan Trump secara resmi memberi tahu Kongres pada 2 Maret, yang memicu dimulainya hitungan 60 hari hingga batas waktu 1 Mei.
Trump sebenarnya dapat mengajukan perpanjangan 30 hari sesuai aturan, namun hingga kini belum dilakukan.
AS terus menekan
Di lapangan, meski terdapat gencatan senjata, ketegangan masih tinggi. Trump, Rabu (29/4) meningkatkan tekanan terhadap Teheran dengan menegaskan akan mempertahankan blokade AS hingga Iran menyepakati kesepakatan nuklir.
Di sisi lain, Iran menolak membuka kembali Selat Hormuz yang menjadi jalur tanker pengangakut seperlima minyak dunia sebelum AS mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Laporan juga menyebut Komando Pusat AS telah menyiapkan rencana serangan “singkat namun keras” terhadap Iran untuk memecah kebuntuan negosiasi antara Washington dan Teheran.
Meski kedua pihak tengah berada dalam fase gencatan senjata, seorang pejabat senior Garda Revolusi Iran dilaporkan mengancam akan melancarkan serangan “panjang dan menyakitkan” terhadap posisi AS jika Washington kembali menyerang Iran.
Retorika, penyesatan, penguasaan opini media, provokasi terkadang berlawanan dengan fakta yang terjadi, sehingga tambah rumit untuk memprakirakan apa yang terjadi.
Yang jelas, jika situasi perang terus berlanjut dan Selat Hormus ditutup Iran dan diblokade
Seperti yang disampaikan Menteri ESDM Bahlil Lakadalia, harga BBM bersubsidi tidak akan naik sampai akhir 2026, dengan catatan harga minyak tidak melampaui 100 dollar AS per barrel. Hari ini harga minyak jenis WTI sempat tembus 105,54 dollar AS per barrel dan Brent 126 dollar AS. (CNBC/Kompas.com/ns)




