AFGANISTAN – Institut Internasional untuk Studi Strategis (IISS) mengatakan jumlah korban yang tewas akibat konflik global sepanjang tahun mencapai 167.000 jiwa dan peningkatan terjadi di Afganistan.
Peningkatan besar terjadi di Afganistan yang tahun lalu mencatat jumlah kematian akibat perang sebesar 15.000, dari 3.500 jiwa.
Laporan berjudul Survei Konflik Bersenjata itu berpendapat peningkatan korban di Afghanistan antara lain disebabkan oleh mundurnya pasukan NATO, makin maraknya serangan Taliban, dan penggunaan senjata api tanpa pandang bulu oleh pasukan pemerintah.
Dalam pernyataannya Dirjen IISS, Dr John Chipman, menyebutkan bahwa salah satu ciri konflik sepanjang tahun 2015 adalah serangan balik dari pemerintah di konfik-konflik besar di dunia untuk merebut kembali wilayah namun tetap menghadapi perlawanan.
“Sering hak tersebut dicapai dengan bantuan dari sekutu asing,” katanya dengan merujuk intervensi Rusia di Suriah, peran pasukan Iran di Irak, dan serangan pasukan Persatuan Afrika di Nigeria dan Somalia.
Selain Afganistan, kenaikan juga terjadi di Amerika Latin -tempat sekitar 21% dari kematian global- dengan sebagian besar korban jatuh di Meksiko dan tiga negara Amerika Tengah, yaitu Honduras, Guatemala, dan El Salvador.
Total jumlah kematian di kawasan itu meningkat menjadi 34.000 dari 30.000 pada tahun 2014.
Sementara itu Suriah mengalami penurunan jumlah korban tewas dibanding tahun 2014, yaitu menurun menjadi 55.000 jiwa atau hanya sepertiganya saja.
(Sumber: BBC)





