BANGSA Indonesia yang mencintai negara dan tanah airnya, sangat terkesan dengan tanggal 19 Desember 1948, dan 19 Desember 1961. Di tanggal-tanggal tersebut kita mengenang semangat kejuangan bangsa Indonesia untuk mempertahankan Republik ini. Tanggal 19 Desember 1948, adalah agresi militer Belanda atas Yogyakarta sebagai Ibukota RI. Tanggal 19 Desember 1961, Bung Karno lewat Trikora membakar semangat bangsa Indonesia untuk merebut kembali Irian Barat dari tangan Belanda.
Mengapa kita sebut “bangsa Indonesia yang mencintai negara dan tanah air” di awal tulisan ini? Karena kini banyak pula manusia Indonesia yang lahir, besar, cari makan dan buang air di negara Indonesia, tapi tidak suka dengan sistem pemerintahannya. Sekedar menghormati bendera Merah Putih dan menyanyikan lagu Indonesia Raya saja, tidak mau.
Maunya kelompok ini, Indonesia menjadi seperti negara-negara di Timur Tengah. Kata mereka, baik yang terang-terangan jadi teroris maupun pragmatis (lihat-lihat situasi), pemerintahan ala Timur Tengah akan menjadikan Indonesia baldatun toyibatun warobbun ghofur. Apa iya? Fakta menunjukkan, negara-negara Timur Tengah dari Mesir, Libia, Suriah, Yaman, Palestina, Afganistan, terus bergolak. Rakyat tidak aman di negeri sendiri, nyawa selalu terancam. Hari ini masih bernama Alfarisi, besuk bisa saja sudah al….marhum kena peluru nyasar.
Ingat! Indonesia bisa aman berdaulat di negeri sendiri, karena para pendiri republik ini berhasil mengusir penjajah Belanda dan Jepang, sehingga lahirlah Proklamasi RI 17 Agustus 1945. Tapi Belanda tak mau mengerti, mereka ingin kembali lagi. Tanggal 19 Desember 1948, ibukota RI yang pindah sementara ke Yogyakarta mereka duduki lewat Agresi Militer II.
Meskipun Bung Karno – Bung Hatta dan sejumlah pemimpin RI diasingkan ke Sumatera, bangsa Indonesia terus berjuang mempertahankan Republik ini. Jendral Sudirman dan pasukannya melawan Belanda lewat perang gerilya. Sejumlah pemimpin kita –Agus Salim, Sumitro Djojohadikusumo, Sudjatmoko– berjuang lewat diplomasi PBB. Lewat Serangan Oemoem 1 Maret 1949 yang menentukan, pada 27 Desember 1949, lewat Penyerahan Kedaulatan, Belanda akhirnya mengakui kemerdekaan kita, dan ibukota RI kembali ke Jakarta.
Belanda mengakui semua wilayah kekuasaan RI, kecuali Irian Barat. Sejak KMB (Konperensi Meja Bundar) Nopember 1945, Belanda memang mengincar pulau ini. Di samping untuk menampung orang-orang Belanda sendiri, juga bumi Papua itu kaya akan pertambangannya. Untuk sementara RI bisa menerima, tapi lama-lama Belanda ingin menguasai sampai kapan pun. Segala diplomasi di PBB selalu gagal.
Habis sudah kesabaran Presiden Sukarno, sehingga tanggal 19 Desember 1961, dicetuskannya Trikora (Tri Komando Rakyat) dari alun-alun utara Yogyakarta. Di tengah hujan lebat tanpa henti, Bung Karno mengkomandokan: 1. Gagalkan pembentukan negara boneka Papua buatan Belanda. 2. Kibarkan Sang Merah Putih di Irian Barat. 3. Bersiaplah untuk mobilisasi umum.
Operasi pembebasan Irian Barat mulai dilakukan, dikenal dengan Komando Mandala dengan panglima Mayjen Soeharto. Banyak tentara kita yang gugur. Jika tak disergap Belanda, juga terjebak oleh “ganas”-nya hutan-hutan di bumi Irian Barat. Tapi karena jaman itu belum ada internet, nyaris tak ada publikasi. Korban tercatat dalam sejarah adalah gugurnya Laksamana Madya Yos Sudarso Komandan KRI Macan Tutul dalam pertempuran dengan Belanda di laut Aru, 15 Januari 1962.
Ironisnya, 1 Mei 1963 Irian Barat dikembalikan ke RI, setelah berganti kekuasaan Orde Baru, Irian Barat tahun 1967 justru diserahkan ke AS. Presiden Soeharto merelakan Irian Barat dikuras tambangnya lewat Freeport. Entah sampai kapan, karena selalu diperpanjang melulu. (Cantrik Metaram).





