Aksi Demo di Iran Tak Terkendali, Internet Diputus

Rezim pemerintah Iran di ambang kolaps akibat aksi-aksi unjuk rasa yang berlangsung di 100 kota, menuntut pemerintah mundur (ilustrasi: BBC)

GELOMBANG aksi unjuk rasa di Iran yang berlangsung sejak Desember lalu berubah menjadi chaos dan makin tak terkendali, diwarnai aksi-aksi anarkis yang sudah merebak ke 100 kota, dan menewaskan 40-an orang.

CNN melaporkan, pemerintahan Iran memutus koneksi internet usai pemimpin tertinggi Ali Khamenei mewanti-wanti pedemo yang dituduh berbuat kerusakan dan antek Amerika Serikat. Kelompok pemantau daring NetBlock mencatat terjadi pemutusan internet dalam skala nasional.

“Tindakan ini menyusul serangkaian aksi sensor digital yang meningkat yang menargetkan protes di seluruh negeri dan menghambat hak publik untuk berkomunikasi pada saat yang kritis,” demikian pernyataan NetBlock, dikutip Al Jazeera.

Sementara situs resmi bandara Dubai, Uni Emirat Arab, juga melaporkan, enam penerbangan Dubai ke kota-kota di Iran dibatalkan sejak Jumat lalu (9/1).

Di tengah aksi “blackout” itu, faksi oposisi eksternal Iran dipimpin anak mendiang Mohammad Reza Shah Pahlevi, Reza Pahlevi yang berada di pengasingan menyerukan perluasan demonstrasi.

“Mata dunia tertuju pada kalian. Turunlah ke jalan,” seru dia di medsos seperti dikutip Reuters.

Dalam video itu Pahlavi memuji para demonstran yang sudah berani turun ke jalan di tengah respons pemerintah yang represif  dan meminta pemrotes terus melanjutkan aksinya.
“Saya bangga kepada kalian yang turun menguasai jalanan di seluruh Iran,” kata Pahlavi dalam video tersebut seperti dikutip Iran International, Sabtu (10/1) seraya menambahkan: “Bagi kalian yang masih bimbang, bergabunglah dengan rekan-rekan sebangsa”.

Menyerukan demo berlanjut

Putra Mahkota Shah terakhir Iran itu juga menyerukan agar demo beranjut, dan ia berjanji akan pulang ke tanah airnya.

“Tujuan kita kini bukan lagi sekadar turun ke jalan, tetapi   mempersiapkan diri untuk merebut dan menguasai pusat-pusat kota,” ujar Reza Pahlavi dalam sebuah pesan video di media sosial seperti dikutip AFP.

“Saya akan kembali ke Iran, serta berjanji akan berdiri bersama rakyat Iran atas apa yang ia gambarkan sebagai “kemenangan sebuah revolusi nasional”.

Sebaliknya Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei menuduh para pengunjuk rasa merusak properti publik. Dia juga menuding demonstran adalah pendukung Presiden AS Donald Trump.

“Di Teheran, sekelompok perusak dan perusuh datang  dan menghancurkan bangunan milik negara, milik rakyat sendiri, hanya untuk menyenangkan hati Presiden Trump,” kata Khamenei.

Khamenei juga  mendesak Trump untuk mengurus negara sendiri tanpa mencampuri internal politik negara lain dan ia juga menuduh Organisasi Mujahidin Rakyat (MKO) sebagai dalang kerusuhan.
Gambar-gambar yang dirilis media pemerintah Iran menunjukkan sepeda motor, mobil, hingga bus terbakar. Mereka juga menyertakan foto stasiun metro dan bank yang tak luput dari mangsa api.

Jurnalis dari media pemerintah Iran juga melaporkan situasi serupa di pelabuhan Rasht, Laut Kaspia.Terlihat seperti zona perang, semua toko sudah hancur,” kata dia, dikutip Reuters.

Dipicu kesulitan ekonomi
Aksi-aksi warga di Iran dipicu kekecewaan  karena inflasi yang begitu tinggi di negara itu, apalagi dalam unjuk rasa kali ini, pihak berwenang menggunakan kekuatan berlebih untuk merespons massa.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian sudah berupaya meredam protes dengan mendorong dialog dan menggenjot pemulihan ekonomi.

Namun, Khamenei meminta pedemo “ditempatkan pada tempatnya” (ditindak tegas-red),  membuat warga kian murka dan justru mendesak pergantian pemerintahan.

Kini adalah masa paling sulit bagi Iran – negara kubu Arab terkuat dalam konteks melawan Israel – yang tengah dilanda krisis politik, yang bakal  menentukan nasibnya ke depan. (AFP/Al-Jazeera/CNN/ns)

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here