1.028 Orang Tewas di Spanyol Akibat Sengatan Panas

Gelombang panas menerjang daratan Eropa sejak awal musim panas 21 Juni lalu. Di Spanyol, 1.028 orang dilaporkan tewas. (ilustrasi Liputan 6)

JAKARTA – KBKNEWS – 2/7 GELOMBANG udara panas yang melanda Spanyol sepanjang Juni 2026 sejauh ini dilaporkan sudah menewaskan lebih dari 1.000 orang.

Data sementara Carlos III Halth Isntitute seperti dilansir AFP, DW dan El Pais (2/7) melaporkan sudah 1.028 korban tewas akibat gelombang panas yang dilaporkan terjadi sejak bulan terpanas kedua dalam sejarah pada Juni 2026.

Angka tersebut merupakan estimasi berdasarkan sistem pemantauan kematian harian (MoMo) yang membandingkan jumlah kematian aktual dengan angka kematian yang diperkirakan terjadi pada periode yang sama.

Dari total 1.028 kematian tersebut, sebanyak 623 kematian terjadi selama pekan gelombang panas yang melanda sebagian besar wilayah Semenanjung Iberia dan Kepulauan Balearic pada 22-24 Juni.

Jumlah korban lebih dari dua kali lipat dibandingkan Juni 2025 yang mencatat 407 kematian akibat gelombang panas.

Data tersebut juga menjadikan Juni 2026 sebagai bulan dengan jumlah kematian terkait panas tertinggi sejak pencatatan dimulai pada 2015.

Badan meteorologi Spanyol, Aemet, menyebut semester pertama 2026 menjadi periode Januari-Juni terpanas sejak pencatatan dimulai, dengan suhu rata-rata sekitar 1,6 derajat Celsius di atas kondisi normal.

Sementara itu, suhu rata-rata di daratan Spanyol sepanjang Juni mencapai 23,2 derajat Celsius atau sekitar 3,2 derajat Celsius lebih tinggi dibanding rata-rata periode 1991-2020.
Kondisi tersebut menjadikan Juni 2026 sebagai bulan Juni terpanas kedua dalam sejarah, hanya kalah dari Juni 2025.

Aemet juga mencatat tujuh semester pertama terhangat di Spanyol semuanya terjadi dalam satu dekade terakhir.

Diperparah perubahan iklim
Menurut para peneliti, gelombang panas yang kini datang lebih awal dan berlangsung lebih lama merupakan bagian dari tren perubahan iklim.

Data Aemet menunjukkan bahwa antara 1975 hingga 2000 hanya terjadi dua gelombang panas pada Juni di Spanyol. Namun, antara 2000 hingga 2025 jumlahnya meningkat menjadi 10 kali kejadian.

Peneliti Carlos III Health Institute, Julio Díaz, mengatakan bahwa dampak suhu ekstrem juga diperburuk oleh polusi udara.

Berdasarkan data yang dikumpulkan lembaganya, sekitar 18 persen peningkatan angka kematian saat gelombang panas berkaitan dengan polusi, sehingga keduanya perlu ditangani secara bersamaan dalam kebijakan kesehatan masyarakat.

Gelombang panas yang terjadi pada akhir Juni tidak hanya berdampak di Spanyol, tetapi juga melanda berbagai negara Eropa.

Kelompok ilmuwan World Weather Attribution menyebut peristiwa tersebut menjadi gelombang panas paling parah yang pernah tercatat di Eropa dan hampir mustahil terjadi pada bulan Juni tanpa pengaruh perubahan iklim akibat aktivitas manusia.

Rekor suhu tertinggi tercatat di sejumlah negara seperti Jerman, Polandia, Republik Ceko, Slovakia, dan Hongaria.

Rekor suhu untuk bulan Juni juga tercipta di Inggris dan Swiss, sementara Perancis mengalami suhu malam hari tertinggi sepanjang sejarah.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan gelombang panas tersebut telah menyebabkan lebih dari 1.300 kematian tambahan di seluruh Eropa dan jumlah itu masih berpotensi bertambah. (AFP, DW, El Pais/kompas.com/ns)

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here