276 Juta Penduduk Dunia Terancam Krisis Pangan

Sekitar 276 juta penduduk dunia bakal terancam rawan pangan akibat imbas pandemi Covid-19 dan Perang Rusia-Ukraina yang mendistorsi rantai pasokan pangan dan energi global. Perlu langkah dan solusi bersama.

DAMPAK  pandemi Covid-2 belum bisa diatasi sepenuhnya dan sampai kini masih berlangsung Perang Rusia – Ukraina sehingga mengancam sekitar 276 juta penduduk dunia bakal mengalami krisis pangan.

Covid-19 yang awalnya terdeteksi di kota Wuhan, Prov. Hubei, China, medio Desember 2019 sampai (15/7) sudah menewaskan 6,38 juta orang dan memapar sekitar 565,15 juta penduduk dunia, sedangkan Perang Ukraina-Rusia yang berlangsung sejak 24 Feb. menganggu rantai pasokan pangan (gandum dan energi dunia.

Ancaman krisis pangan disampaikan oleh Sri Mulyani saat membuka Pertemuan ke-3 Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Central G20 di Bali, Jumat (15/7).

“Menurut program pangan dunia, jumlah orang yang menghadapi kerawanan pangan akut meningkat lebih dari dua kali lipat sejak 2019, sebelum pandemi, dari 135 juta menjadi 276 juta orang,” ungkap Menkeu.

Menurut Sri Mulyani, sejumlah negara berkembang terancam tidak bisa membayar hutang akibat kesulitan ekonomi akibat imbas pandemi Covid-19, diperparah Perang Rusia dan Ukraina yang ikut mendistorsi rantai pasokan pangan.

Perang Rusia – Ukraina selain menimbulkan kehancuran bangunan, prasarana dan sarana serta korban manusia, sangat berpengaruh pada ekonomi global karena keduanya memiliki peran strategis dalam rantai pasok perdagangan internasional.

Rusia merupakan eksportir minyak mentah terbesar kedua di dunia, sementara Ukraina merupakan eksportir minyak biji bunga matahari dan gandum terbesar di dunia.

Kini dunia dihadapkan pada krisis pangan seiring terjadinya lonjakan harga komoditas pangan sehingga krisis pangan global perlu segera ditangani melalui kebijakan negara-negara di dunia.

“Ini urgen, krisis pangan harus ditangani. Pengerahan semua mekanisme pembiayaan yang tersedia segera diperlukan untuk menyelamatkan nyawa, serta memperkuat stabilitas keuangan dan sosial,” jelasnya.

Selain menghadapi tantangan krisis pangan, lanjut Sri Mulyani, saat ini dunia juga dihadapkan pada kondisi krisis energi . Bank Dunia memperkirakan harga minyak mentah telah naik 350 persen dari April 2020 hingga April 2022 atau lonjakan tertinggi sejak 1970-an.

“Ini benar-benar masalah yang mengancam pemulihan kita. Dunia berada di tengah krisis pangan dan energi, “ ujarnya.

Sri Mulyani yang mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia mengajak  anggota G20 untuk terlibat dalam pembahasan mengenai gejolak ekonomi global yang telah menyebabkan krisis energi, pangan, dan lonjakan inflasi di banyak negara.

“Kami juga akan mengajak para pimpinan banyak negara untuk sama-sama menghadapi tantangan inflasi. Ini akan jadi diskusi penting dalam pertemuan G20,” ujarnya dalam G20 Sustainable Finance For Climate Transition di Bali, (14/7).

Sri Lanka Bangkrut

Saat ini baru Sri Lanka yang bangkrut akibat salah urus, dampak pandemi dan juga Perang Rusia- Ukraina, sementara puluha negara di Afrika selain Afghanistan, Argentina, Laos, Mesir, Myamar, Pakistan juga bakal mengalami nasib serupa jika tidak ada solusi menghadapi ancaman krisis pangan global nanti.

RI berada di peringkat ke-14 dari 15 daftar negara berisiko yang disurvei Bloomberg dengan potensi resesi sebesar tiga  persen, jauh lebih rendah dari Selandia Baru (33 persen), Korea Selatan dan Jepang (25 persen).

Sementara China, Hongkong, Australia, Taiwan, dan Pakistan dengan persentase 20 persen, Malaysia 13 persen, Vietnam dan Thailand 10 persen dan Filipina delapan persen.

Indonesia dinilai memiliki indikator ekonomi yang lebih baik dari sisi  neraca pembayaran dan APBN, ketahanan dari GDP (produk domestik bruto), dan juga dari sisi korporasi maupun dari rumah tangga, serta kebijakan moneter.

Siap-siap kencangkan ikat pinggang, kompak bersama-sama menghadapinya dengan negara-negara sedunia dan tentu, segenap elemen bangsa.

 

Advertisement