3.000 Orang di Garut Menderita Gangguan Jiwa

ilustrasi

GARUT -Data riset Kesehatan Dasar mencatat  jumlah penderita sakit jiwa berat di Kabupaten Garut mencapai 3 ribu orang, seperti diungkapkan Spesialis Jiwa di Rumah Sakit Umum (RSU) dr. Slamet Garut, dr. Willy.

Menurutnya, berdasarkan data yang ada sedikitnya 3 ribu orang menderita gangguan jiwa berat dan 200 ribu gangguan jiwa mental emosional (ringan sedang).

Karenanya, dia mengapresiasi terobosan yang dilakukan UPT Puskesmas Cibatu melakukan sosialisasi Desa Siaga Sehat Jiwa. Dengan begitu, masyarakat atau kader akan aktif dan mengetahui gejala awal gangguan jiwa.

Ia menambahkan jika penderita sakit jiwa biasanya dilatarbelakangi masalah sosial. Diantaranya, faktor ekonomi, keluarga juga garis keturunan. Kini menurtunya pengobatan sudah bisa dilakukan di Puskesmas terdekat. Namun jika sudah tidak bisa ditangani akan dirujuk ke RSU dr Slamet Garut.

” Di Garut pengobatan pasien jiwa sudah bisa dilakukan. Yang belum ada hanyalah ruangan rawat inap,” pungkas Willy, dikutip Fokus Jabar.

Guna mendeteksi sekaligus mengobati gejala penyakit sakit jiwa, Unit Pelaksana Teknis (UPT) Puskesmas Cibatu, Kabupaten Garut gelar acara sosialisasi Desa Siaga Sehat Jiwa, Jumat (5/5/2017).

Kegiatan yang dipusatkan di Desa Kertajaya tersebut dihadiri unsur Forum Komunikasi Pimpinan (Forkopim) Kecamatan Cibatu, Kepala UPT Puskesmas dan 100 orang warga Desa setempat.

Kepala UPT Puskesmas Cibatu, Ny. Leli Yuliani menyebut, Desa Kertajaya merupakan pasien tertinggi yang ada di Kecamatan Cibatu. Dijelaskan Lely, di Kertajaya kasus gangguan jiwa berat tertinggi ketimbang desa lain. Tercatat tahun 2015 sekitar 48 orang, dan kini tinggal 21 orang setelah ditangani secara instensif.

Advertisement