MEULABOH – Sedikitnya 11 rumah Kecamatan Kreung Sabe, Aceh Jaya mengalami kerusakan parah akibat diterjang banjir, dan membuat pemiliknya kehilangan tempat tinggal.
Abubakar (50) dan Maryani (45), suami-istri dari Desa Rantau Panjang, terpaksa tinggal di tenda pengungsian dengan kondisi seadanya bersama anak-anaknya.
“Saat kejadian, saya dan anak sudah keluar dari rumah karena ketinggian banjir mencapai 1.5 meter, sementara suami saya sedang pergi ke kebun dan sampai sekarang belum kembali pulang,” kata Maryani kepada Kompas.com, Sabtu (19/11/16).
Rumah Maryani yang terbuat dari beton berukuran 6 meter x 10 meter itu rusak parah. Bagian depan dan atap runtuh sehingga tak dapat lagi ditempati lagi.
Sebagian perabotan rumahnya juga ikut rusak dan hanyut terseret banjir besar.
“Sebagian perabotan isi rumah yang selamat dari banjir sekarang sudah saya ungsikan ke rumah keluarga,” kata dia.
Selain Maryani, belasan warga Desa Rantau Pajang juga mengalami hal yang sama. Rumah mereka tidak jauh dari aliran Sungai Krueng Sabee.
Warga terpaksa mengungsi karena khawatir bila rumah telah retak akibat banjir akan runtuh.
“Bagian rumah kami memang tidak semua hancur total, tapi dinding dan fondasi banyak retak karena terkikis arus banjir,” kata Zulkifli, pengungsi.
Kepala Desa Rantau Panjang Teuku Ali Munir Yakob mengatakan, puluhan rumah warganya di sepanjang Sungai Krueng Sabee sudah tidak layak huni lagi akibat kerusakan yang ditimbulkan pascabanjir.
Ia berharap pemerintah Kabupaten Aceh Jaya membantu membangun kembali rumah warga di lokasi yang jauh dari sungai dan bebas dari banjir.
“Direlokasi ke tempat yang lebih aman karena selama terjadi banjir dalam sebulan terakhir ini tercatat ada 11 rumah warga yang sudah rusak, 4 diantaranya hancur total,” ujarnya.





