JAKARTA (KBK) – Ruang kelas TK Islam di Kampung Siaga Manggarai, Jakarta Selatan pagi itu terlihat ramai dari hari biasanya. Kendati merupakan hari ahad namun ruang kelas berukuran 6 x 5 meter itu penuh di jejali belasan murid. Di dalam kelas suasana terasa hangat, meski sesak namun senyum ceria tetap mengembang.
Ketika mendekati pukul setengah 10 dengan penuh percaya diri Hafis (6) salah seorang murid tiba-tiba mengacungkan tangan. Seraya dengan tindakan, mulutnya pun mencecap jawaban yang dilontarkan Michael. Seperti tak mau kalah, disebelah Hafis ada Dina remaja berusia 12 tahun yang ikut mengacungkan tangan. Suasana kian terasa ramai ketika Michael mengatakan bahwa jawaban dari kedua murid itu benar.
Kala itu Michael yang tergabung dalam voulenter komunitas Dreamdelion Cerdas tengah memberikan pembelajaran melalui media cerita yang diangkat dari kisah rakyat, Si Pitung. Tidak hanya bercerita Michael juga kerap melakukan interaktif terhadap murid dengan model tanya jawab.
“Kami dari perwakilan Abang None Jakarta Utara ingin menceritakan betapa pentingnya melestarikan budaya Jakarta seperti cerita rakyat, temat wisata, makanan dan sejarahnya. Untuk itu kami datang ke sanggar,” ucap Michael yang mengaku sering memberikan pembelajaran serupa ke komunitas Dreamdelion Cerdas.
Marwah Azizah Kariem Ketua Dreamdelion Cerdas mengungkapkan Dreamdelion merupakan commity development yang berfokus pada isu-isu terkait dengan pendidikan, kesehatan dan lingkungan serta menjadi pendamping untuk pemberdayaan ekonomi lokal. Melalui Dreamdelion cerdas Marwah ingin menciptakan dampak sosial positif terhadap tantangan sosial yang dihadapi oleh masyarakat.
“Kami menyasar anak-anak dari kalangan marjinal di Manggarai untuk diberikan pendidikan karakter dengan rentang usia dari yang belum sekolah hingga SMP tetapi dengan kegiatan-kegiatan yang menyenangkan,” jelas wanita kelahiran 1 September 1995 itu.
Bukan tanpa sebab, Marwah menyasar kawasan Manggarai karena di daerah tersebut terkenal dengan warganya yang kerap terlibat tawuran. Untuk itu Marwah bersama tim Dreamdelion Cerdas setiap hari minggu rutin menggelar sekolah gratis bagi anak-anak dari jam 9 pagi hingga pukul 12 siang dengan harapan mental dan jiwa anak-anak dapat terpupuk dengan nilai-nilai kebaikan.
“Setelah berdiri satu tahun lalu dampak terhadap anak-anak sudah kelihatan. Anak menjadi patuh dan memiliki rasa hormat kepada orang yang lebih tua,” ucap mahasiswi semester 8 jurusan farmasi Universitas Pancasila itu.
Adapun kegiatan yang dilakukan antara lain mendengarkan dongeng, menyusun puzzel, mewarnai, membuat kerajinan, nonton bareng, kelas bahasa inggris, merajut anyaman dan lain sebagainya. Marwah mengatakan semua kegiatan yang dilakukan memiliki arti tersendiri yang berdampak signifikan terhadap tumbuh kembang dan pola pikir anak.
Marwah menilai untuk menumbuhkan nilai baik terhadap anak diperlukan kesabaran dan pengulangan tema pembelajaran. Kegiatan menyusun puzzel sengaja diselipkan dalam pembelajaran guna membangkitkan dan melatih kesabaran murid.
“Dengan menyusun puzzel adik sanggar dapat belajar untuk bersabar dan tetap semangat untuk menyelesaikan tugas yang diberikan,” cetus Marwah sambil mencomot puzzel hasil kerja anak-anak.
Marwah berpandangan meskik kegiatan dilakukan di sepetak ruang kelas yang tampak kecil namun sangat layak untuk diperjuangkan bersama untuk membuat anak-anak menjadi manusia kuat.
“Kalau bukan hari ini semoga besok, lusa, minggu depan dan seterusnya anak-anak bisa menjadi baik. Semoga apa yang coba kita tanamkan hari ini dapat muncul pada kepribadian pada adik sanggar di masa mendatang,” tutup Marwah.





