
JIKA fenomena penampakan alga terjadi di selatan Samudera Indonesia tentu orang di sini akan mengait-ngaitkannya dengan Nyi Loro Kidul, penguasa laut selatan yang menjadi mitos dan melegenda sejak era tempo doeloe.
Earth.com seperti dikutip Kompas.com menyebutkan, selama bertahun-tahun, para ilmuwan dibuat penasaran dengan area misterius di Samudra Selatan memancarkan cahaya hijau kebiruan (turquoise) di citra satelit, yang kemudian diketahui akibat tumbuhan laut alga.
Alga adalah tumbuhan berklorophil (zat hijau daun) berukuran mulai dari beberapa mikron hingga bermeter-meter, yang hidunya tergantuang pada agerakan air di air tawar (sungai, danau), laut dan tempat tempat lembab.
Dengan pigmen klorofil yang dimilikinya, alga memungkinkan melakukan fotosintesis, sedangkan beberapa alga memiliki pigmen lain seperti karotenoid dan fikobilin, yang memberi pewarnaan tertentu.
Wilayah yang sering tertutup awan dan es laut ini tampak begitu terang, namun penyebabnya tidak kunjung jelas.
Baru kemudian diketahui, fenomena semacam ini disebabkan oleh coccolithophores—alga mikroskopis dengan cangkang kalsium karbonat yang mengilap.
Organisme ini menyukai perairan hangat, sementara lokasi tersebut berada di perairan yang terlalu dingin untuk mereka berkembang.
Peneliti dari Bigelow Laboratory for Ocean Sciences menemukan kilauan terang alga di Samudera Selatan berupa sabuk di sekitar Antartika yang disebut Great Calcite Belt. Pada awal 2000-an.
Kawasan ini dipenuhi coccolithophores dan memiliki kadar karbon anorganik partikulat yang tinggi. Data satelit kala itu menunjukkan bahwa cangkang mereka menjadi penyebab kilau terang di zona tersebut.
Namun, lebih ke selatan, muncul wilayah terang lain yang sama reflektifnya—hanya saja tanpa penyebab yang jelas.
Selama bertahun-tahun, para ilmuwan kesulitan meneliti karena gangguan awan, ombak tinggi, dan lapisan es, namun kini, misteri itu mulai terjawab.
Sejenis plankton
Peneliti menemukan, penyebabnya kemungkinan adalah jenis plankton berbeda: diatom kaya silika yang membangun struktur padat dan mengilap yang disebut frustule. Inilah yang membuat laut di kawasan itu berkilau.
“Penelitian ini menggunakan pendekatan luas untuk memahami dinamika biologis dan geokimia di perairan terpencil ini dengan cara yang sebelumnya belum pernah dilakukan,” ujar Barney Balch, penulis utama studi ini.
Penemuan ini berasal dari ekspedisi riset menggunakan kapal R/V Roger Revelle. Tim berlayar dari Hawaii menuju lintang 60°LS, berhenti di titik-titik strategis untuk mengukur warna air, laju kalsifikasi, fotosintesis, serta kadar karbon anorganik dan silika.
“Satelit hanya bisa melihat beberapa meter teratas laut, tapi kami bisa meneliti dengan berbagai pengukuran di berbagai kedalaman,” kata Balch.
“Belum pernah sebelumnya ada rangkaian data sedetail ini di wilayah laut selatan.” Tim juga mempelajari pergerakan pusaran arus (eddies) yang membawa air dari kedalaman ke permukaan.
Sepanjang perjalanan, mereka mengukur kalsium karbonat dan silika—dua mineral yang memantulkan cahaya sekaligus berperan penting dalam penyimpanan karbon di laut.
Dengan memadukan data biogeokimia, pengukuran optik, dan pencitraan mikroskopis, tim memetakan perubahan komunitas plankton dari utara ke selatan.
Di perairan hangat subtropis, plankton jenis dinoflagellates mendominasi. Memasuki Great Calcite Belt, giliran coccolithophores mengambil alih.
Tetapi, di perairan dingin kaya silika di selatan Polar Front, diatom menjadi pemain utama. “Kombinasi metode ini memberi bukti kuat bahwa tingkat pantulan cahaya tinggi di citra satelit selatan sabuk kalsit dapat dijelaskan oleh frustule,” jelas Balch.
Frustule ini memantulkan cahaya mirip cangkang coccolithophores, meskipun dibutuhkan jumlah yang jauh lebih banyak untuk menghasilkan efek optik setara.
Konsentrasi tinggi diatom di wilayah tersebut menjelaskan kilau yang terlihat satelit selama ini.
Tim juga menemukan jejak coccolithophores di perairan dingin walaupun jumlahnya kecil dan tidak dominan, mereka ada di sana.
“Yang mengejutkan, kami juga menemukan konsentrasi kecil karbon anorganik, tanda kalsifikasi, dan bukti visual keberadaan coccolithophores di laut selatan,” ungkap Balch.
Lebih tahan cuaca dingin
Penemuan ini menunjukkan bahwa coccolit hophores mungkin lebih tahan terhadap dingin dari yang diduga sebelumnya.
Ada kemungkinan pusaran arus membawa sebagian kecil populasi mereka dari utara ke Great Calcite Belt. Temuan bahwa kawasan ini merupakan salah satu penyerap karbon (carbon sink) terbesar di planet ini.
Mengetahui organisme apa yang hidup di mana, serta bagaimana mereka terlihat di citra satelit, membantu ilmuwan membangun model iklim yang lebih akurat.
Saat ini, algoritma satelit sering kesulitan membedakan coccolithophores dan diatom. Kesalahan ini bisa berakibat pada salah tafsir aktivitas karbon dan kondisi biologi laut di wilayah penting.
“Kami memperluas pemahaman tentang di mana coccolithophores hidup dan mulai mengerti pola yang terlihat di citra satelit dari wilayah yang jarang kami kunjungi ini,” kata Balch.
“Tidak ada yang menandingi pengukuran dari berbagai metode untuk menceritakan kisah yang lebih lengkap.” Studi lengkap telah diterbitkan di jurnal Global Biogeochemical Cycles.
Bagi awam, fenomena alam terkait penampakan alga di Samudera Selatan ini menjadi pencerahan agar tidak buru-buru mengaitkan sesuatu yang belum diketahui dengan mistis.




