JAKARTA – Ketika hujan tiba, airnya menetes membasahi lantai. Disaat angin berhembus, tiupannya mampu menusuk tulang sang penghuni. Genting cokelat dan dinding bambu rumah Binah merupakan saksi bisu bagaimana dirinya bertahan hidup. Sewaktu muda Binah merupakan buruh tani yang kuat keluar masuk sawah untuk menggarap padi.
Ketika usianya makin renta Bina seakan tidak berdaya melawan kerasnya hidup. Di rumahnya yang sudah tak layak seluas 2 x 4 meter di Desa Kalibatur, Kecamatan Kalidiwar, Tulungagung, Jawa Timur Binah hidup sebatang kara. Suami Binah telah meninggal dunia.
Cerita soal kehidupannya Binah yang miris ramai dibicarakan di media sosial, salah satunya dibagikan oleh fanpage Komunitas Orang Jawa Timur.Untuk bertahan hidup tak jarang Binah hanya merebus air untuk mengganjal perutnya yang lapar karena tak memiliki beras.
“Juga dinding rumah Binah sudah bolong di berbagai sudut. Kayu penyangga rumahnya juga sudah lapuk. Rumahnya lebih mirip gubuk kecil,” tulis admin akun facebook fanpage Komunitas Orang Jawa Timur.
Sebenarnya Binah memiliki anak tapi sudah berpulang bersama sang suami. Sekedar merebahkan tubuh Binah biasa beristirahat di dipannya yang terbuat dari bambu beralaskan tikar plastik tanpa bantal.Postingan ini kemudian beredar viral di dunia maya. Banyak netizen yang mempertanyakan kemanakah pemerintah setempat.
“Lurah camatnya kemana ya sampai embah tidak bisa makan. Mudahan ada orang dekat situ yang baik nolong mbah kalau lurah camat tutup mata biar dia dipecat pak Jokowi,” komentar Sonia Rhay netizen yang hatinya iba melihat kehidupan Binah.
“Ya Allah, pejabat yang berwenang di mana. Kok ada nenek yang hidupnya begitu kok dibiarkan. Jangan pada kenyang sendiri yang berwenang. Tolong dibantu nenek tersebut. Kalau bisa bantu dibikinin tempat tinggal yang layak huni,” sahut Ifanah Milanisti netizen lainnya.





