Meski Renta, Pria ini Tetap Berjualan Agar Sang Anak Dapat Tamat SMK

kemiskinan
Sadino bersiap keliling jajakan daganganya. Foto Dok Seputarkudus.com

JAKARTA – Peluh membasahi wajah Sadino (66). Sambil memikul dua buntelan karung putih ia melangkah mantap. Setelah lama berjalan ia memutuskan untuk berhenti. Tangannya cekatan membuka isi karung yang telah ia bawa panas-panasan.Di depan TK Pembina Desa Getas Pejaten, Jati, Kudus, Jawa Tengah ia menjajakan mainan tembak-tembakan dari bambu.

Saat barang dagangannya tertata rapih, ia menunggu para siswa TK keluar dan disaat itu lah Bapak 5 anak ini membagikan kisah hidupnya. Seperti dilansir Seputarkudus.com Sadino mengaku berjualan keliling di usia tuanya lantaran ingin menyekolahkan anak hingga tamat SMK.

Bukan tanpa rintangan, sejak berjualan mainan tembak-tembakan pada tahun 1995 perekonomian Sadino hanya bersifat gali lubang tutup lubang. kendati hidup susah namun Sadino bangga karena telah mampu mengantarkan anak hingga tamat SMK.

“Saya tidak mau menyusahkan anak. Saya harus berjualan untuk mendapatkan uang. Empat anak saya telah menikah dan telah hidup sendiri-sendiri,” ungkap Sadino disala-sela aktifitas berdagangnya.

Tujuan hidup Sadino sangat mulia, ia ingin bersikap adil kepada semua anaknya. Sehari berjualan keliling ia mengaku saat ramai bisa mendapatkan uang sekitar Rp 50 ribu. Sedangkan saat sepi pembeli paling dia hanya mampu mengantongi uang sekitar Rp 40 ribu.

“Pengahasilan tersebut masih kotor, karena belum terpotong untuk kebutuhan makan sehari-sehari selama di Kudus. Kalau di rata-rata saya bisa dapat bersih sekitar Rp 30 ribu sehari,” ungkap Sadino yang mengaku pulang ke kampung halamnnya di Madiun tiap 10 hari sekali.

Di Kudus Sadino tinggal di rumah kenalannya warga Desa Ploso, Kudus. Untuk menjemput rezeki, saban hari Sadino harus berangkat selepas salat Subuh dan pulang sekitar pukul 17.00 WIB. Selama berkeliling Sadino mengaku akan berhenti dan menjajakan mainanya di depan sekolah dasar (SD) maupun di depan TK yang dia lewati.

“Alhamdulilah masih ada teman yang mau menampung saya. Kalau tidak saya biasanya tidur di Pom Bensin,” tutup Sadino.

Advertisement