Kisah Pekebun di Pinggir Jakarta yang Selalu Kalah

JAKARTA (KBK) – Selain hamparan sawah nan luas, ujung timur Jakarta juga memiliki sepetak lahan perkebunan. Ialah Aris satu dari puluhan pekebun yang menggantungkan hidupnya di pinggir ibu kota.

Sejak 8 tahun silam pria asal Ciamis, Jawa Barat itu memilih jalan hidup menjadi pekebun. Dengan memanfaatkan lahan di tepian Jalan Inspeksi Kanal Banjir Timur (KBT), Rorotan, Jakarta Utara Aris menyemai benih.

“Saya di sini menanam bayem, kangkung, sawi dan genjer,” ungkap Aris saat ditemui KBK di pondoknya yang terletak di samping kebunnya (28/2).

Kebun Aris tak luas, namun memanjang dari batas kota Jaktim – Jakut hingga ke kali Kendal sepanjang 300 meter. Menurutnya menjadi pekebun bukan tujuan hidup Aris. Jauh sebelum terjun ke dunia perkebunan, Aris merupakan pekerja proyek pembangunan KBT. Melihat banyak lahan yang mangkrak, Aris memutuskan banting stir menjadi pekebun.

Namun harga jual sayur yang fluktuatif membuat Aris kerap jungkir balik mencari modal. Menurutnya harga sayur dipasaran sepetti ada yang mempermainkan. Tak jarang kangkung dari kebunnya tak terserap pasar meski kualitasnya bagus.

“Saya sudah modal banyak tapi sayur nggak kejual. Katanya pasokan melimpah. Mungkin pekebun seperti saya sudah banyak di sini. Meski kangkung melimpah tetapi kenapa harganya mahal kalau di restoran,” ujar Aris sambil mengerenyitkan dahi.

Dalam sehari pendapatan Aris tak menentu mengingat harga sayur yang naik turun di angka Rp 2 ribu – Rp 8 ribu per ikat. Diluar ketidakstabilan harga, limbah rumah tangga yang kian meningkat juga menjadi momok bagi kelangsungan kebunnya.

“Paling keuntungan cuma cukup untuk bbayar sewa kontrakan dan makan sehari-hari. Kalah terus saya,” ujar Ayah dua orang anak itu.

Aris berharap ada pihak terkait supaya harga sayur dipasaran bisa lebih stabil supaya kedua anaknya di kampung tetap bisa bersekolah.

Advertisement