JENEWA (KBK) – Diperkirakan lebih dari 20.000 orang terpaksa meninggalkan rumah mereka di Aleppo selama 72 jam terakhir.
Hal itu disampaikan juru bicara Komite Internasional Palang Merah (ICRC), Selasa (29/11/2016).
Ia menambahkan bahwa sekitar 60.000 orang melarikan diri dari daerah yang dilanda perang sejak Agustus tahun ini.
Dalam sebuah pernyataan media yang dikeluarkan Selasa malam, ICRC mengatakan bahwa beberapa orang tinggal di tempat penampungan, beberapa di masjid, sekolah, atau tenda, sementara yang lain mengungsi di bangunan yang belum selesai atau rusak, mereka semua berada di bawah tekanan.
“Begitu banyak orang terpaksa mengungsi dua atau tiga kali karena peluru dan bom selalu mengampiri mereka,” kata pernyataan itu menambahkan bahwa di sebelah barat dari Aleppo terlihat lebih dari 40.000 orang mengungsi dari daerah pertempuran-pertempuran yang aktif.
Di wilayah timur, dilaporkan 20.000 orang mengungsi karena perang juga berkecamuk di sana.
“Mayoritas dari mereka yang melarikan diri adalah bersama keluarga, termasuk banyak bayi dan anak-anak, dan situasi di tempat penampungan sangat genting, dan mereka menghadapi situasi lebih buruk termasuk musim dingin yang suhunya terus drop,” ungkap ICRC menekankan.
Selasa pagi, Sekretaris Jenderal PBB untuk urusan kemanusiaan, Stephen O’Brien, memperingatkan bahwa stok pangan telah habis di distrik timur Aleppo.
Menurut Xinhua, kondisi Aleppo diperparah oleh kurangnya fasilitas medis yang memadai.





