965 Warga Amerika Tewas di Tangan Polisi Sepanjang 2015

Polisi AS menembak warga klulit hitam. Foto: vosizneias.com

WASHINGTON (KBK)– Sekitar 965 warga sipil Amerika tewas di tangan Polisi Amerika Serikat (AS) sepanjang tahun 2015. Sedangkan jumlah yang tewas ditembak lebih banyak warga Amerika yang berkulit hitam. Menurut statistik, warga kulit hitam yang ditembak mati oleh Polisi AS itu enam kali lebih banyak dibanding warga kulit putih.

Di antara para korban penembakan polisi, 564 mereka bersenjata pistol, 281 bersenjata yang kurang mengancam, seperti pisau, senjata mainan atau alat pemotong lainnya dan 90 orang ditembak mati dalam keadaan tidak bersenjata.

Manurut analis, hanya 9 persen yang ditembak itu itu warga sipil tak bersenjata dan tidak proposionalnya mereka kebanyakan berkulit hitam.

Pembunuhan Michael Brown, seorang remaja kulit hitam bersenjata, oleh seorang polisi kulit putih di Ferguson, Missouri, Agustus 2014 membuktikan kegagalan pemerintah federal AS untuk melacak penggunaan kekuatan mematikan oleh polisi.

Kasus ini juga telah memicu perdebatan nasional tentang penggunaan kekuatan yang berlebihan oleh polisi AS dan memicu gerakan hak-hak sipil kulit hitam untuk memprotes di seluruh negara.

Termotivasi penembakan oleh Ferguson, Whasinton Post meluncurkan proyek yang komprehensif untuk mendata setiap penembakan oleh polisi AS pada 2015. Ditemukan bahwa polisi nasional AS telah membunuh lebih dari dua kali lebih banyak dari polisi dari Biro Investigasi Federal (FBI).

Dalam kebanyakan kasus, polisi tidak didakwa atas penggunaan kekuatan yang berlebihan.

Pada 2015, hanya 18 petugas didakwa akibat dari pembunuhan, meskipun hampir tiga kali lipat jumlah dalam dekade terakhir, yang rata-rata lima per tahun. Ada 47 dakwaan antara 2005-2014.

Analisis juga menilai, kurangnya kemampuan polisi dalam menangani orang yang dengan penyakit mental atau dalam krisis emosional, yang banyak mati oleh polisi pada 2015.

Sebanyak 243 korban penembakan polisi diyakini memiliki penyakit mental atau dalam krisis emosional.

Seperti diberitakan Xinhau, Senin (28/12/2015), dara data yang diurai Washinton Post itu, menunjukkan dibutuhkan pelatihan khusus untuk polisi agar lebih peka terhadap orang yang sedang dalam penyakit mental dan emosional.

Advertisement