Tunjangan Lansia

Di Panti Wreda para Lansia diajak berolahraga senam pagi. Biar tua diharapkan masih rosa-rosa seperti Mbah Marijan.

KULU nafsin dzaikatul maut (setiap yang hidup akan mati), begitu Qur’an mendalilkan. Sebelum ajal tiba, ada proses dulu. Menjadi tua dulu, sakit-sakitan, baru malaikat Izroil menjemput. Tapi banyak juga yang potong kompas, tak menjadi tua dulu, tidak sakit-sakitan sebelumnya, tahu-tahu klepeg…..meninggal gara-gara serangan jantung atau kecelakaan. Semua merupakan takdir Allah Swt, dan manusia tak bisa melawan takdir.

Tapi yang meninggal di usia tua tak juga selalu berbahagia di ujung usianya. Banyak yang karena tekanan ekonomi, gara-gara waktu muda lupa segalanya, senenge dientek-entekake. Banyak pula yang dari muda hingga tuwa memang miskin melulu, gara-gara ditakdirkan “balung kere”.

Maka berbahagialah para lansia di Indonesia. Kakek-nenek 60 tahun ke atas yang tak punya pekerjaan dijamin hari tuanya oleh negara. Memenuhi janji kampanye tempo hari, Presiden Jokowi akan memberi tunjangan pada mereka sebanyak Rp 500.000 mulai tahun 2020. Enak betul ya, ongkang-ongkang kaki dapat uang. Bagaimana dengan lansia yang ditanggung oleh keluarganya?

Kecuali yang mati muda, menjadi kakek nenek adalah keniscayaan. Dalam usia menjelang “tutup buku” hidup bahagia bersama anak cucu. Itu maunya semua kakek nenek cap apapun. Sayangnya tak semua bisa kesampaian. Ada yang anak dan cucunya miskin, sehingga kakek nenek tak terjamin hari tuanya.

Paling tragis, mereka yang terpaksa tinggal di rumah Dinas Sosial, Panti Wreda. Ada yang memang tak punya keluarga, ada pula keluarga yang tak mau direpotkan oleh si lansia tersebut. Bisa mereka orangtuannya langsung, bisa pula mereka adalah sekedar famili dekat.

Menurut data BKKBN, tahun 2020 mendatang jumlah lansia Indonesia akan mencapai 28,8 juta jiwa. Ini berkat meningkatnya harapan hidup manusia Indonesia. Sedangkan menurut Dedy Mizwar saat masih Wagub Jabar (2016), dalam rentang dari tahun 2020 sampai 2035, usia produktif atau usia 16 sampai 30 tahun warga Indonesia akan mencapai 64 persen atau sekitar 150 juta jiwa dari total jumlah penduduk sekitar 297 juta jiwa.

Selama kurun 15 tahun tersebut, Indonesia akan menikmati bonus demografi di mana jumlah usia produktif Indonesia diproyeksikan berada pada grafik tertinggi dalam sejarah bangsa. Dari mereka ini nantinya banyak yang menjadi mahasiswa, baik PTS maupun PTN. Semoga saja menjadi mahasiswa yang bener, demo tapi tidak mudah ditunggangi dan dimanfaatkan kaum perusuh.

Mayoritas para lansia tidak produktif lagi. Beruntung yang memiliki tunjangan pensiunan, baik untuk dirinya sendiri, atau karena istri maupun suaminya dulu ASN. Tapi bagi mereka yang sama sekali tak punya, masa depannya yang hampir habis itu menjadi semakin gelap dan gelap saja.

Menyikapi hal ini, pemerintahan Jokowi-Ma’ruf Amin tahun depan akan memberi tunjangan –istilahnya prakerja– pada mereka berkisar antara Rp300.000 hingga Rp500.000 sebulan. Menurut Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dakiri, negara telah menganggarkan Rp10 triliun.

Tentunya, mereka yang menerima tak sekedar penganggur di hari tua. Meski nganggur, bila ditanggung oleh keluarga yang cukup mapan, apakah layak menerima? Bisa jebol uang negara, seperti yang terjadi pada BPJS Kesehatan dewasa ini. Seperti kata Menkeu Sri Mulyani, di akhir tahun 2019 ini diproyeksikan keterkoran mencapai Rp 32 triliun, dan bila tahun 2020 tak dinaikkan 2 kali lipat iurannya, BPJS Kesehatan tahun 2024 akan mencapai Rp 77 triliun.

Sekarang  bagaimana pula cara pembagian tunjangan Lansia itu? Transver langsung lewat ATM, apakah dikordinir melalui desa masing-masing. Ini harus jelas, jangan sampai menjadi lahan korupsi baru. Sekedar contoh, Dana Desa telah banyak menyebabkan Pak Kades masuk penjara. Mereka tidak berniat korupsi, tapi karena tak bisa pembukuan, terjebaklah pada perbuatan rasuah. (Cantrik Metaram)

Advertisement