Sulit dibantah bahwa budaya Jawa sangat dipengaruhi oleh Islam, baik tersamar maupun terang-terangan. Karena ada yang terang-terangan, saya memberanikan diri untuk mengatakan sebagian (besar) budaya Jawa ruhnya Islam.
Hal itu terjadi karena raja-raja Demak, Pajang dan Mataram, yang kemudian pecah menjadi Surakarta dan Yogyakarta, beragama Islam. Bahkan, mereka mempunyai hubungan darah dengan Wali Songo,para penyebar Islam di Pulau Jawa, karena perkawinan dengan keturunannya.
Berbicara tentang budaya Jawa, rujukan utama kebanyakan orang adalah budaya kerajaan Mataram, yang didirikan oleh Panembahan Senopati. Raja pertama Mataram itu dijadikan tauladan laku utama bagi orang Jawa seperti terangkum dalam (buku ) “Serat Wedhatama”.
Di samping Wedhatama, karya Mangkunegarea IV, raja puri Mangkunegaran, Solo, rujukan keutamaan budi juga disajikan dalam “Serat Wulangreh”, karya Pakubuwono IV, raja Kasunanan Surakarta. Rujukan lain adalah sejumlah buku “susastra” karya pujangga keraton, keturunan Mataram, di antaranya Raden Ngabehi Ronggowarsito. Keraton adalah pusat budaya.
Wulangreh, bab XII, dalam bentuk Tembang Asmaradana terang-terangan menyebut Islam sebagai pedoman utama bagi orang hidup. Bunyinya sbb:
Padha netepana ugi,/kabeh parentahing sarak,/terusna lahir batine,/salat limang wektu uga,/ tan kena tininggala,/sapa tinggal dadi gabug,/yen maksih remen ing praja.(Pupuh 1). Terjemahan bebasnya: Semua harus menjalani juga,/semua perintah agama,/lahir dan bathin,/sholat lima waktu tidak boleh ditinggalkan,/siapa yang meninggalkan akan menjadi hampa,/jika masih suka hidup di pemerintahan (Bait 1).
Wiwit ana badan iki,/iya teka ing sarengat,/ananging manungsa kiye,/rukun Islam kang kelima,/nora kena tininggal,/puniku prabot agung, mungguh wong urip neng ndonya/ (Pupuh 2). Terjemahan bebasnya: Mulai dari badan ini,/ sampai syariat,/adanya manusia ini,/rukun Islam yang lima,/tidak boleh ditinggal,/itu piranti agung,/buat orang hidup di dunia (bait 2).
Dalam dua bait itu, jelas disebut shalat lima waktu, syariat dan rukun Islam sebagai piranti utama bagi orang hidup di dunia, yang tidak boleh ditinggalkan. Masih ada tiga bait lagi. Intinya (berdasar terjemahan bebas) bait ke 3 sbb: rukun yang lima itu harus dijalani sesuai kemampuan, siapa yang tidak menjalani akan mendapat laknat, karena itu harus dipatuhi.
Bait ke 4 berbicara tentang perintah Allah, sabda nabiullah (Muhammad Rasulullah) yang disebut hadits, jangan dianggap main-main, harus dihayati, karena itu bisa menjadi penerang hati.
Bait ke 5 berbicara tentang sulitnya orang hidup. Orang yang tidak tahu hidupnya sama dengan kerbau. Mendingan menjadi kerbau, karena dagingnya masih halal dimakan, sedangkan daging manusia haram untuk dikonsumsi.
Begitu indah, jelas dan lugas bunyi syair yang gampang untuk disenandungkan itu. Banyak orang Jawa yang mahir dan gemar menyitir dan melantunkannya. Tapi, yaitu, kebanyakan hanya sampai di situ: kata-kata (unen-unen), tanpa difahami, dihayati maknanya dan diamalkan dalam perilaku hidup sehari-hari.
Sebagai Muslim berlatar belakang budaya Jawa, saya dan Dr. Purwadi, dalang dan dosen Universitas Negeri Yogyakarta, merasa terpanggil melakukan gerakan M3BJRI (Memahami, Menghayati, Mengamalkan Budaya Jawa Ruh Islam).
Kegiatan gerakan ini meliputi penelitian, dokumentasi dan sosialisasi melalui sarasehan, penerbitan buku, media massa dan media sosial, pagelaran seni-budaya serta pendidikan formal dan non-formal. Yang tak kalah pentingnya untuk dilakukan juga: pembinaan para petani di desa, pewaris dan pelestari budaya sekaligus, tentang bagaimana bercocok tanam yang baik dan menguntungkan berdasar ajaran leluhur.



