
SEPEDA yang sampai saat ini masih banyak digunakan di negara-negara maju karena dianggap ramah lingkungan dan menyehatkan, justeru terpinggirkan di bumi Nusantara saat ini.
Yogyakarta yang dijuluki kota pelajar misalnya, dulu juga dikenal sebagai kota sepeda karena alat transportasi yang dikayuh itu banyak digunakan oleh warga termasuk para siswa sampai mahasiswa.
Di era now, hanya mbok-mbok bakul sayur atau petani di pinggiran saja yang masih mau “numpak pit” (naik sepeda atau fiets dari bahasa Belanda) , sedangkan para ABG atau kaum milenial “emoh” menaikinya karena takut tampak miskin atau dianggap nggak gaul.
Sepeda diperkenalkan oleh Belanda yang menjajah negeri ini sekitar 350 tahun, sedangkan konon pada awalnya ditemukan di Perancis pada awal abad ke 18 yang disebut velopede atau kendaraan yang berjalan cepat dengan dikayuh.
Versi sejarah menyebutkan, sepeda diciptakan oleh seorang pengawas hutan Jerman, Baron Karls Drais von Sauerbron pada 1818 dan dikembangkan oleh pandai besi Skotlandia, Kirpatrick Mc Millan pada 1839.
Di era kolonial Belanda pra kemerdekaan RI pada 1945, hanya segelintir warga atau kaum elite lokal yang memiliki sepeda seperti amtenar ( pegawai di instansi atau perusahaan Belanda), para priyayi (bangsawan) atau kaum terpandang.
Sejumlah merk sepeda yang hadir di Indonesia saat itu hampir semua buatan Belanda seperti Raleigh, Phoenix, Fongers atau Gazelle.
Jadi jika kini Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan ingin menghidupkan kembali penggunaan sepeda sebagai salah satu alternatif alat angkut ibukota yang sering didera kemacetan, agaknya OK-OK saja.
Namun demikian, tentu banyak hal yang perlu ditata jika masyarakat ibukota didorong naik sepeda, khususnya faktor keselematan para pengendara dari kecelakaan akibat ulah saling serobot, sradak-sruduk moda angkutan lain yang lebih cepat.
Perlu disiapkan bengkel bergerak yang sewaktu-waktu bisa dihubungi jika pengendara sepeda mengalami gangguan teknis atau kempis ban, juga tempat-tempat parkir sepeda sera pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K) termasuk menyiapkan ambulans.
Dalam kondisi berkeringat setelah mengayuh sepeda di tengah panas terik suhu udara ibukota, tentu juga tidak nyaman bagi pengendara dan juga teman-teman sekantor lainnya sehingga perlu disediakan kamar mandi yang bersih, hiegienis, aman dan nyaman di tempat-tempat umum dan perkantoran.
Yang juga lebih penting, tidak ada “siluman-siluman anggaran” yang mendompleng proyek pembangunan jalur sepeda seperti dilakukan dalam penyiapan APBD DKI Jakarta 2020 dengan menganggarkan Rp73 milyar hanya untuk pembuatan marka, rambu-rambu lalu lintas dan pengecetan jalur sepeda sepanjang 63 Km.
Tidak ada salahnya mendorong warga Jakarta menggunakan sepeda, sepanjang tujuannya bukan proyek pemghambur-hamburan uang yang hanya menguntungkan para siluman anggaran.




