Tawuran Sekedar Hiburan

Fenomena tawuran terutama antarpelajar, remaja atau antarkampung di kota-kota besar harus ditangani secara serius, jika tidak, perilaku menyimpang itu bakal menimbulkan korban terutama nyawa sia-sia.

PARA pakar ilmu sosial atau kejiwaan mungkin perlu meneliti, apakah termasuk perilaku menyimpang (anomali) atau kelainan jiwa jika remaja menganggap tawuran berujung maut cuma sekedar hiburan.

Itu terjadi di ibukota di negeri ini. HS (27), warga dan anggota geng Sunter Kangkungan (SK) , Jakarta Utara meregang nyawa akibat sabetan clurit lawannya, FA (16) anggota geng motor VDM, Minggu (24/11).

Kapolres Metropolitan Jakut Kombes Herdi Susanto (Kompas, 27/11) mengemukakan, korban dan lawannya saling mengenal dan menjalin komunikasi dalam grup WA sebagai sesama pelanggan bengkel motor di Jakarta Pusat.

BA salah satu anggota geng SK , melalui WA memprovokasi FA yang juga rekan korban (HS) untuk melakukan tawuran antara kedua geng yang kemudian lokasinya disepakati di sekitar kawasan Rumah Sakit di bilangan Kemayoran, Jakarta Pusat.

Tawuran yang terjadi Minggu dini hari sekitar pukul 01.000 berlangsung singkat karena dibubarkan warga setempat, namun kemudian dilanjutkan lagi di kawasan Sunter Jaya, masih di wilayah Jakut.

Dalam kejadian itu HS yang terluka punggungnya akibat sabetan clurit FA dibantu rekannya, AP dan FF dilarikan ke RSUD Kemayoran, namun nyawanya tidak tertolong dalam perjalanan menuju RS. Polisi juga masih mencari tersangka lainnya.

Ketua Labsosio Pusat Kajian Sosiologi Universitas Indonesia Daisy Indra Yasmine mengemukakan, tawuran sebagai hasrat untuk bersenang-senang atau iseng bukan fenomena baru di kalangan remaja di kota-kota besar di Indonesia.

Tawuran di kalangan remaja, menurut dia, juga sering dianggap sebagai ritual untuk merekat kekompakan internal komunitas mereka sehingga fenomena tersebut membuat upaya mendamaikannya tidak efektif.

Banyak Kasus
Kasus kekerasan karena hal sepele sering terjadi, misalnya yang menimpa warga Kec. Ilir Barat 11 M Agung Kukuh (16) yang tewas ditusuk HS (16) hanya karena menyanyikan lagu dangdut karya Rhoma Irama “Begadang” di beranda rumahnya saat pelaku melintas.

Korban yang sempat adu mulut dan baku pukul dilerai warga setempat, namun kemudian HS memanfaatkan saat korban lengah, menusuknya di tengah pertunjukan kuda lumping di desanya.

Lebih mengenaskan lagi, guru agama di SMK Ichthus, Manado tewas ditusuk FL muridnya (13/10) hanya karena sang guru nahas itu menegur pelaku untuk tidak merokok di dalam kelas.

Kematian sia-sia akibat tawuran tanpa penyebab, ketersinggungan, salah paham atau serempetan kendaraan di jalanan sering terjadi di berbagai tempat di negeri ini sehinga perlu difikirkan upaya mencegahnya.

Salah satunya, agar Mendikbud, Nadiem Makarim agar menambah kurikulum baru pada siswa sejak dini (dari TK) tentang etiket, tata krama atau adat istiadat, juga pemahaman tentang anti kekerasan serta risikonya terutama sanksi hukum bagi pelaku.

Begitu pula di lingkungan rumah, perlu peran orang tua untuk menanamkan nilai-nilai kemanusiaan dan anti kekerasan bagi anak-anak , begitu pula di lingkungan ketetanggaan.

Tanpa upaya kongkret dan serius, perilaku menyimpang yang juga terkesan primitif seperti tawuran, kekerasan akibat hal-hal sepele atau salah paham, selain merenggut nyawa sia-sia, juga merendahkan harkat dan martabat bangsa.

Jangan sampai, misalnya tawuran distigmakan oleh pihak luar sebagai hiburan yang melekat pada seni budaya atau semacam olahraga khas tradisional Indonesia.

Segenap komponen bangsa, ayo bangkit dan lawan aksi-aksi kekerasan!

Advertisement