Jika Habitat Ular Terganggu

Ular bermunculan di Jabodetabek pada musim penghujan kini karena terganggunya ekosistem akibat alih fungsi lahan menjadi permukiman secara masif yang semula adalah habitat ular.

PEMUNCULAN ular-ular terutama jenis kobra di sejumlah permukiman warga di Jabodetabek akhir-akhir ini tidak lepas akibat alih fungsi masif lahan yang menjadi habitat hewan melata itu di kawasan Jabodetabek selama beberapa dekade ini.

Warga terutama kaum perempuan yang memang banyak diantaranya bergidik (jijik) atau takut ular menjadi resah akibat adanya laporan kehadiran tamu-tamu tak diundang itu.

Munculnya ular-ular di kawasan permukiman antara lain terjadi di kel. Joglo, Kembangan, Jakarta Barat, Kel. Duren Jaya, Bekasi, bahkan di Depok tercatat tiga anak-anak diserang kobra, satu diantaranya masih dirawat inap.

Peneliti Reptil Pusat Penelitian Bologi LIPI Amir Hamidy (Kompas 17/12) menyebutkan, ekosistem terganggu akibat alih fungsi habitat ular menjadi permukiman baru yang juga menganggu sistem rantai pakannya.

Saat berubah menjadi lokasi permukiman, ular bergeser dari habitatnya di rawa-rawa, lahan terlantar atau perkebunan ke lokasi yang masih asli, namun sebagian juga beradaptasi dengan lingkungan baru asalkan di lokasi yang lembab atau gelap.

Dari temuan tim Pemadam Kebakaran setempat atas laporan warga, ular banyak dijumpai di tumpukan bata , genteng atau kayu, kebun atau pekarangan rumah, di got-got atau di rumah-rumah kosong yang dihuni tikus-tikus, mangsa ula-ular tersebut.

Taman Belajar Ular (Tabu) Indonesia juga mencatat, tercatat ada 230
laporan yang masuk terkait konflik antara ular dan manusia selama 2019 dan yang terbanyak terjadi di wilayah Jabodetabek.

Kebersihan rumah, termasuk mengepel lantai dengan cairan pembersih lantai dan menaruh kapur barus atau pewangi di lemari-lemari, kamar mandi dan pojok-pojok ruangan yang lembab dan gelap disarankan agar tidak disambangi ular.

Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) DKI Jakarta bekerjasama dengan Kementerian Lingkungan dan Kehutanan juga melaksanakan kegiatan pelepasan burung hantu dan serat Jawa yang menjadi predator kobra di wilayah Jabodetabek.

Warga juga diminta tidak panik atau melakukan gerakan mengagetkan jika tiba-tiba berpapasan dengan ular, melainkan cukup berdiam diri saja dan membiarkan ular berlalu.

Jika menghadapi persoalan dengan ular, menemukan telur-telur, ular atau satwa berbahaya, masyarakat disarankan untuk menghubungi call center 112.

Advertisement