KAKEK-nenek menasihati pada cucu-cucunya bahwa, cinta suami bisa dibangun melalui perut. Artinya, suami akan tambah sayang pada istrinya, ketika sang istri pintar masak. Sebaliknya, istri yang tidak bisa masak bisa mengancam terjadinya erosi cinta suami. Namun demikian, jangan pula karena sayur masakan istri kemasukan semut saja, suami jadi marah besar dan tega menganiaya secara kejam. Ini bisa terancam masuk penjara gara-gara melanggar pasal KDRT.
Kamis 2 Januari lalu diberitakan, Hendar (25) warga Desa Sagara Kec. Cibalong Kab. Garut (Jabar), tega menganiaya istrinya, SA (21) dengan kejam, gara-gara dalam sayur masakannya ada semut. Tanpa ba bi bu lagi, air panas langsung disiramkan ke punggung istrinya hingga melepuh. Tak ayal lagi Hendar ditangkap polisi dengan tuduhan pelanggaran UU KDRT No. 23 tahun 2004. Ancamannya bisa denda Rp 15 juta atau hukum kurungan maksimal 5 tahun.
Kemungkinan besar Hendar ini lelaki sumbu pendek, gampang tersulut emosinya. Apa sih bahayanya semut hitam, akankah menjadikan rasa makanan berubah? Tidak kan? Tinggal dibuang pakai sendok, habis perkara. Lalu dengan nada lembut dikatakan pada istri, “Ma, lain kali kalau nyayur jangan pakai semut, ya!” Pastilah istri akan senyum kecut, tapi tahu akan kesabaran dan kelembutan suami.
Kakek-nenek dulu sering mengatakan, cinta suami bisa dibangun melalui perut. Artinya, suami bisa bertambah sayang istri karena ibunya anak-anak ini pintar memasak. Apa saja di tangan olahan istri akan menjadi lezat, bikin ilat ngibing (lidah bergoyang) kata orang Banyumas. Ketika suami sudah menjadi fanatik akan makanan istri, itu tanda-tanda pembangunan cinta lewat perut telah berhasil. Dari situ baru menyusul urusan di bawah perut!
Kebanyakan suami memang fanatik pada masakan emak atau ibunya dulu. Makanan apapun, baginya terasa lebih nikmat olahan ibunya, itu karena dari balita sampai dewasa tak pernah lepas dari masakan karya ibu. Tak mengherankan suami sering membandingkan masakan istri dengan masakan ibunya. “Kok nggak seenak masakan ibu saya dulu.” Kata seorang suami. Kata-kata itu masih terasa halus. Tapi ada yang membandingkan secara frontal dan kasar, “Kok enakan masakan ibu saya!”
Wah, bagi istri kalimat terakhir itu bisa menyinggung perasaan. Jika pinjam istilah Asmuni Srimulat, itu termasuk “sedikit kata-katamu, tapi sengak didengar”. Karenanya, jangan sampai membandingkan seperti itu, sebab si istri akan membalas mengatakan, “Sana ikut emakmu!”. Ya kalau masih hidup, jika sudah meninggal kan sama saja suami disuruh mati sekalian!
Dalam Islam diriwayatkan lewat hadits, bahwa Nabi Mohammad SAW tak pernah mencela masakan istrinya. Secara halus hanya Rosulullah katakan, “makanan ini tak ada dalam kaumku, sehingga kurang berselera memakannya.” Maka menurut periwayat hadits Abu Hurairoh, “Beliau tidak pernah mencela makanan, jika suka maka akan memakannya. Jika tidak suka akan meninggalkannya.”
Orangtua dulu selalu mengajari anak perempuannya untuk pintar memasak. Tapi orangtua generasi sekarang sudah jarang yang melakukannya, karena orangtuanya sendiri sudah tak bisa masak. Maka ibu-ibu muda sekarang, tak banyak yang pintar masak. Mereka cukup mengandalkan masakan rumahmakan online, yang hanya pencet-pencet HP makanan sudah datang sendiri ke rumah.
Pernah seorang ibu rumahtangga muda pagi-pagi telpon emaknya, bertanya bagaimana menggoreng telur? Sebab sang suami ingin sarapan pakai telur goreng sebelum berangkat kerja. Maka ibupun sambil geleng-geleng kepala memberi petunjuk lewat telepon, “Telur bebek atau ayam diaduk (dikocok) dalam mangkuk, diberi garam sedikit, lalu digoreng di wajan dengan minyak sedikit saja. Tunggu lima menit sudah jadi.” Kata sang ibu.
Maka orang Jawa punya filosofi, istri yang ideal harus memenuhi syarat 4 MA, yakni: 1. Manak (berketurunan), 2. Macak (dandan), 3. Masak, 4. Manut (nurut pada suami). Persyaratan itu saling melengkapi, dan jika semuanya terpenuhi alangkah bahagia yang menjadi suaminya. (Cantrik Mataram)





