Pembelajaran Empati dari Denmark

Tawuran antarsiswa atau remaja yang sering terjadi di kota-kota besar akibat hal-hal sepele, bahkan tanpa penyebab sama sekali salah satunya terjadi karena absenya sikap empati yang kurang ditanamkan sejak usia dini.

DENMARK selama beberapa tahun berturut-turut termasuk salah satu negara yang penduduknya paling berbahagia, antara lain berkat kurikulum pendidikan tentang empati yang diajarkan sejak 1993.

Berdasarkan World Happiness Report 2019, Finlandia, Denmark, Norwegia, Islandia dan Belanda menempati lima besar negara paling bahagia dari seluruhnya 159 negara yang dinilai, sedangkan Indonesia berada di rangking ke – 92 dan urutan lima terbawah yakni Sudan Selatan, Afrika Tengah, Afghanistan, Tanzania dan Rwanda.

Orang sering tak menyadari, empati perlu ditanamkan sejak usia dini karena tidak saja akan membuat anak-anak bersikap arif secara emosional dan sosial, jauh dari sikap melecehkan atau melakukan perundungan satu dan lainnya, juga menjadi kunci sukses di masa depannya.

Kurikulum tentang empati dijarkan satu jam setiap pekan sejak anak didik berusia enam tahun (mulai masuk SD) hingga 16 tahun atau tamat SLA dengan sasaran untuk membentuk karakter mereka saat terjun ke masyarakat nanti.

Contohnya, siswa-siswi berkumpul santai di ruang terbuka, berdialog dan mencari solusi suatu persoalan pribadi, isu yang sedang viral di medso atau persoalan sehari-hari saat mereka berinteraksi dengan siswa atau orang lain.

Guru dan murid saling berdebat atau berargumentasi, tentunya dengan acuan yang jelas seperti hukum, nilai-nilai budaya dan norma yag berlaku, tidak asal “nyinyir” atau “ngeyel”. Guru berperan pula mengarahkan agar anak didik bisa menjadi pendengar yang baik dan memahami cara pandang orang lain.

Saat tidak berdiskusi pun, ada waktu bagi murid-murid untuk sekedar ngumpul sesuai dengan konsep pembelajaran kolaboratif yang digagas oleh pendidik dan penulis Denmark Iben Sandahl.

Empati diajarkan di sekolah-sekolah di Denmark, pertama melalui kerja kelompok, fokus pada upaya membangun dan meningkatkan keterampilan dan bakat tiap siswa ketimbang mendorong persaingan diantara mereka.

Cara kedua melalui pembelajaran kolaboratif yang memungkinkan siswa belajar lebih banyak tentang subjek yang dihadapi serta belajar cara-cara baru untuk berkomunikasi dengan orang lain.

Pemikirannya, seorang anak yang secara alami berbakat dalam matematika misalnya, tanpa belajar berkolaborasi dengan teman sebayanya, tidak akan melangkah lebih jauh karena akan membutuhkan bantuan dalam mata pelajaran lain.

Bagaimana dengan Indonesia?

Pembelajaran terkait empati, sopan santun, etika dan tata karma yang merupakan bagian pembangunan karakter bangsa agaknya belum tertangani dunia pendidikan di negeri ini, jika pun ada, mungkin hanya menyentuh permukaan berupa hafalan.

Akibatya, yang paling kasat mata adalah aksi-aksi tawuran yang terjadi antarsesama siswa di sejumlah kota di Indonesia yang terjadi akibat kejadian sepele, serempetan kendaraan, saling pelotot, bahkan tanpa sebab, sengaja menantang kelompok lain berkelahi melalui medsos.

Aksi penyiletan atau klitih oleh geng motor di Yogyakarta beberapa waktu lalu dengan korban acak yakni para pelalu-lalang di jalan umum , penyiraman air keras di Jakarta dan penembakan dengan senapan angin di Magelang menunjukkan rendahnya empati dari pelaku.

Entah apa yang ada di benak pelaku, mengingat perbuatan keji yang mereka lakukan secara acak, bisa saja menyasar kerabat, keluarga atau temannya sendiri.

Absennya empati tidak hanya memicu kejahatan remaja (juvenile delinquency), tetapi juga bisa merasuki orang dewasa, bahkan tokoh-tokoh ternama atau elite politik.

Fitnah, adu domba, ujaran kebencian dan penyebaran berita bohong alias hoaks dan politisasi agama oleh salah satu kontestan Pilkada DKI Jakarta 2017 dan Pilpres 2019 lalu terjuga akibat terkikisnya rasa empati yang membuat orang kehilangan nalar, yang penting berhasil meraih kekuasaan.

Pembelajaran empati sejak dini seperti dilakukan oleh Denmark mungkin bisa mempertebal kebersamaan dan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia .

Empati diharapkan tidak lagi menghadap-hadapkan antara “saya, kami dan kita” melawan “dia, kalian dan mereka” karena kita semua satu bangsa, satu bahasa dan satu negara.

Lebih dari itu, kita semua sama-sama umat manusia.

Advertisement