Calon Doktor “Predator”

Kasus perkosaan Reynhard Sinaga terhadap 159 pria Inggris jadi perbincangan di TV.

JIKA bisa memilih sebelum dilahirkan, bayi pun tak mau turun ke bumi sebagai makhluk gay, yang menyukai sesama jenis sebagaimana umatnya Nabi Luth. Tapi karena takdir Allah menentukan begitu, si bayi tinggal menjalani saja hidup seperti itu hingga dewasa, sampai kemudian ketahuan kelainan jiwanya bahwa dia seorang LGBT (Lesbi, Gay, Bisex, Transgender).

Masyarakat pada umumnya tak bisa memberi ruang orang-orang berkelainan semacam itu, bahkan terkesan jijik berdekatan dengannya. Tak masuk di akal bagi manusia normal, lelaki kok menyukai lelaki. Jika olahraga, kan sama saja bermain anggar. Kalau anggar bisa masuk cabang olahraga yang dipertandingkan di PON, bahkan Asian Games, atletnya dielu-elukan. Lha kalau “atlet” LGBT, siapa yang mau menyeponsori, memberikan piala dan piagam. Didekati saja ogah.

Mereka terkucil di lingkungan sendiri, sehingga kalau di Jakarta membentuk komunitas untuk berkumpul-kumpul di Taman Lawang, Menteng. Tapi karena perbuatan mereka sering mengganggu lingkungan, akhirnya jadi sering ditertibkan oleh Kamtib istilah dulu atau Satpol PP istilah sekarang. Tapi Alhamdulillah, kini stigma Taman Lawang sebagai pangkalan LGBT sudah mulai menghilang.

Reynhard Sinaga, adalah salah satu praktisi LGBT Indonesia. Mungkin dia tak pernah berkiprah di Taman Lawang, justru debutnya dimulai di Inggris. Tapi sekali berkiprah benar mengguncangkan dunia dan memalukan Indonesia. Bagaimana tidak? Calon doctor itu diajukan ke Pengadilan Inggris, gara-gara jadi “predator seks”. Di Manchester dia telah memperkosa 159 lelaki.

Reynhard Sinaga anaknya cakep, pintar lagi. Karena orangtua kaya, tak sayang biayai Reynhard Sinaga, 36, menempuh S-3 di Inggris. Tapi apa lacur, sang diaspora  di negeri orang malah bikin malu bangsa. Di kota Manchester itu si calon doktor ini malah menjelma jadi “predator seksual”, di sela-sela jam studinya dia suka kelayapan mencari mangsa. Korbannya yang berusia antara 17-36 tahun diajak minum-minum ke apartemennya, setelah mabok barulah “dihajar” habis.

Dari Pengadilan terungkap terdapat 195 korban pria yang menjadi korban kejahatan seksualnya. Ada 159 rekaman video perbuatan bejat Reynhard Sinaga, tapi hanya 48 yang bisa diproeses hukum. Akhirnya Pengadilan Inggris memvonisnya penjara seumur hidup. Bahkan media Inggris mengklaim, Reinhard adalah pemerkosa terbesar di negaranya yang pernah disidangkan.

Kata ahli Ilmu Jiwa, lelaki gay tidak mutlak takdir dari sononya. Ada juga yang terpaksa jadi gay pula gara-gara pernah mengalami kekerasan seksual sesama jenisnya. Bisa jadi Reynhard Sinaga juga semacam itu. Beruntung dia anak orang kaya, sehingga tak perlu gentayangan di  Taman Lawang, Menteng. Orangtua pernah hendak menikahkan Reynhard dengan perempuan cantik di kelasnya, tapi dia tak tertarik pada wanita meski secantik bintang sinetron sejuta episode pun.

Sarjana lulusan UI itu kemudian memilih sekolah ke Manchester, Inggris. Selesai menempuh S-2-nya, dia melanjutkan S3 di Leeds University di kota yang sama. Tapi ternyata, diaspora asal Depok itu di Inggris malah bikin malu bangsa. Reynhard menjadi praktisi LGBT sejak tahun 2015, baru tertangkap tahun 2017. Dari bukti rekaman di HP-nya terdapat 159 lelaki yang telah menjadi korban kekerasan seksual. Dalam sidang di Pengadilan Inggris dia divonis seumur hidup.

Mensekab Pramono Anung menilai, perilaku Reynhard sungguh mencoreng bangsa. Tapi bagaimana mau membelanya, bikin bingung, kan? “Menaklukkan” bangsa Inggris kok urusan penyimpangan seksual. TKI dihukum mati gara-gara bunuh majikan, pemerintah masih bisa membelanya. Tapi kalau LGBT? Pemerintah tak bisa mengintervensi pengadilan negara lain!

Misalkan kejadian itu di Arab Saudi, pemerintah masih bisa lobi-lobi dengan raja Salman. Dan ini sering berhasil, meski kasus dihukum mati sekalipun. Misalkan harus membayar diyat sekalipun, orangtua Reynhard yang kaya raya pasti mampu. Tapi di Inggris, ratu Elisabeth apakah mengurusi terpidana LGBT? Bikin bête, deh.  (Cantrik Metaram)

 

Advertisement