Iran Ditekan dari Dalam dan LN

Sistem peluncur rudal darat ke udara jarak pendek 9M331 Tor M-1 eks-Uni Soviet (dijuluki SA-15 Gauntlet oleh Barat) ini yang digunakan Iran menjatuhkan pesawat penumpang Boeing B737-800 milik Ukraina karena salah sasaran selepas landas dari Bandara Baghdad, 8 Jan. lalu.

IRAN mengalami tekanan di dalam negeri dan internasional pasca tewasnya Panglima Divisi al Quds, satuan elite Garda Revolusi di Irak Mayjen Qassem Soleimani disusul insiden salah tembak atas pesawat Ukraina.

Jenderal Qassem tewas bersama komandan milisi loyalis Iran di Irak, Hashed al-Shaabi alias al-Mohandis dan beberapa tokoh kunci lainnya akibat serangan rudal mematikan yang dilancarkan oleh drone AS, 3 Januari lalu.

Serangan terjadi saat Qassem yang diincar karena dianggap tokoh di balik serangan-serangan terhadap kepentingan AS di Irak dan juga serangan-serangan roket ke wilayah Israel baru tiba dari Damaskus, Suriah dan dalam iring-iringan konvoi kendaraan keluar bandara Baghdad.

Untuk membalas dendam atas kematian Qassem, militer Iran lalu menghujani kam AS Ain-al Assad dan Harir di Irak dengan 22 rudal balistik (8/1) walau dilaporkan tidak ada korban karena kedua lokasi sudah keburu dikosongkan.

Di saat dalam kondisi siaga penuh itu lah pada hari yang sama terjadi salah tembak pesawat penumpang Boeing B-737 -800 Ukraina yang baru lepas landas dari Bandara Imam Khomaini, Baghdad sehingga menewaskan seluruhnya 176 awak dan penumpang.

Kemungkinan, operator rudal Iran, di tengah situasi tegang menghadapi kemungkinan serangan balasan AS, langsung menekan tombol peluncur rudal begitu tampak obyek bergerak cepat di layar radar sehingga menghantam dan membuat pesawat dengan nomor penerbangan PS72 itu hancur berkeping-keping.

Awalnya pemerintah Iran menampik tudingan itu, namun setelah ditemukan bukti-bukti di lokasi reruntuhan pesawat, akhirnya diakui, pesawat jatuh terkena rudal darat ke udara jarak dekat 9M331 Tor M1 (SA-15 Gauntlet menurut versi Barat) buatan Uni Soviet yang mulai diproduksi di penghujung Perang Dingin lalu (1983).

Di dalam negeri, salah tembak terhadap pesawat Ukraina itu memicu aksi unjukrasa warga terutama mahasiswa Iran yang bahkan merembet ke isu sensitif politik bernuansa ketidak percayaan pada pemerintah.

“Mereka bohong, musuh bukan di Amerika Serikat, tetapi di sini, “ teriak seorang pengunjuk rasa di Teheran, Selasa lalu (14/1)menyiratkan kekesalannya pada ujaran kebencian dan permusuhan yang selalu dinarasikan terhadap AS sejak Revolusi Iran 1979 lalu.

Bahkan Presiden Iran Hassan Rouhani menyebutkan, peristiwa itu sangat memalukan, menyakitkan dan tidak bisa dimaafkan serta ia berjanji akan membentuk tim pencari fakta untuk menyelidikinya.

Musibah itu juga menimbulkan ketegangan antara rezim pemerintah Presiden Rouhani dan Garda Revolusi Iran yang de fakto memegang kendali politik, ekonomi dan keamanan negara.

Kritik Rouhani terhadap lambannya pengakuan dari pihak militer atas peristiwa itu dan janjinya untuk mengusut tuntas pejabat yang bertanggungjawab secara tidak langsung menyiratkan pula adanya perpecahan dengan Garda Revolusi.

Bisa saja musibah ini menjadi pencetus perubahan di Iran, mengingat beberapa waktu lalu juga muncul aksi unjuk rasa di beberapa kota di Iran memprotes sulitnya lapangan kerja dan melambungnya harga-harga kebutuhan pokok. (AP/Reuters/ns)

Advertisement