
MESKI gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran masih berlangsung setelah diperpanjang sepihak oleh Presiden Donald Trump sampai waktu yang tak ditentukan, kedua negara belum mencapai kesepakatan atas tuntutan masing-masing.
Tuntutan Iran a.l adanya jaminan non-agresi dari AS, kendali Selat Hormuz, hak pengayaan uraniu, pencabutan sanksi dan ganti rugi perang, sebaliknya AS menuntut penghentian program nuklir Iran, pembatasan rudal balistik, keamanan regional (penghentian proksi seperti ke Houthi, Hamas dan Hizbullah) serta inspeksi ketat terhadap program nuklir Iran.
Gencatan senjata dua pekan sampai 22 April lalu diperpanjang sepihak oleh Presiden Trump dengan alasan untuk membuka peluang negodiasi langkah damai, namun sampai hari ini tampaknya masih alot.
Presiden AS Donald Trump, Sabtu lalu (25/4) membatalkan rencana pengiriman utusannya Steve Witkoff dan Jared Kushner ke Islamabad, Pakistan, untuk melakukan pembicaraan dengan Iran.
Trump memberi alasan saat ini “pertikaian dan kebingungan yang luar biasa” sedang terjadi di dalam kepemimpinan Teheran.
Menlu Iran Abbas Araghchi kembali ke Islamabad, Minggu ketika para pemimpin Pakistan mendorong untuk menghidupkan kembali pembicaraan gencatan senjata antara Teheran dan Washington.
Ini terjadi saat Trump tiba-aba mengatakan diskusi damai dapat dilakukan melalui telepon.
Rencana Iran bertujuan untuk mengakhiri perang dengan cepat dengan melewati sengketa pengayaan uranium. AS sedang meninjau proposal tersebut.
IRAN telah mengusulkan pembukaan kembali Selat Hormuz dan mengakhiri perang sambil menunda negosiasi nuklir ke tahap selanjutnya, menurut laporan media, Ahad (26/4).
Usulan tersebut disampaikan kepada AS melalui mediator, termasuk Pakistan, di tengah kebuntuan diplomatik terkait program nuklir Iran, menurut situs berita Axios seperti dilansir Anadolu.
Sebuah sumber mengatakan rencana tersebut bertujuan untuk melewati perselisihan mengenai pengayaan uranium Iran.
Hal itu dilatarbelakangi pertimbangan bahwa kesepakatan yang lebih cepat berfokus pada pencabutan blokade pelabuhan Iran dan Selat Hormuz serta pemulihan lalu lintas maritim.
Berdasarkan usulan tersebut, gencatan senjata akan diperpanjang untuk jangka waktu yang lama atau dibuat permanen, sementara negosiasi nuklir Iran baru akan dimulai setelah Selat Hormuz dibuka kembali dan pembatasan dicabut.
Seorang pejabat AS dan sumber-sumber yang mengetahui diskusi tersebut mengatakan Gedung Putih telah menerima usulan tersebut, tetapi belum mengindikasikan apakah akan menindaklanjutinya.
Sementara itu Presiden AS Donald Trump diperkirakan akan mengadakan pertemuan di Ruang Situasi hari ini (Senin 274) dengan para pejabat senior keamanan nasional untuk membahas kebuntuan dan kemungkinan langkah selanjutnya.
Trump mengatakan lebih memilih mempertahankan blokade angkatan laut di pelabuhan Iran untuk meningkatkan tekanan pada Teheran.
“Ketika Anda memiliki cadangan minyak yang sangat besar, jika jalur ini ditutup, jalur itu akan meledak dari dalam,” katanya.
Ia menambahkan bahwa Iran mungkin hanya memiliki “sekitar tiga hari” sebelum menghadapi tekanan internal.
Upaya Diplomatik
Upaya diplomatik meningkat selama akhir pekan tercermmin a.l dari Menlu Iran Abbas Araghchi mengadakan pembicaraan di Islamabad, Pakistan dan Muscat, Oman yang berfokus pada Selat Hormuz.
Ia tiba di Saint Petersburg, Rusia pada Senin pagi untuk pembicaraan tingkat tinggi dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dan pejabat senior lainnya.
Araghchi mengatakan, Senin pagi seperti dilansir Anadolu bahwa pembicaraannya di Oman berfokus pada memastikan transit yang aman di Selat Hormuz untuk kepentingan negara-negara di kawasan dan dunia yang lebih luas.
Dalam sebuah unggahan di platform perusahaan media sosial X, Araghchi mengatakan diskusi dengan para pejabat Oman mencakup hubungan bilateral dan perkembangan regional.
Ia menekankan bahwa kedua negara sebagai negara pesisir Selat Hormuz, berbagi tanggung jawab untuk stabilitas di jalur perairan vital tersebut.
“Sebagai satu-satunya negara pesisir Hormuz, fokus kami termasuk cara untuk memastikan transit yang aman yang bermanfaat bagi semua tetangga terkasih dan dunia,” katanya.
“Tetangga kami adalah prioritas kami,” ia menambahkan. Pada Ahad, Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi mengatakan mengadakan pembicaraan yang “baik” dengan Araghchi tentang Selat Hormuz.
Ia menekankan bahwa diplomasi dan solusi praktis diperlukan untuk memastikan kebebasan navigasi yang berkelanjutan.
Dari Oman, Aragchi kembali ke Pakistan, Minggu untuk melakukan pembicaraan dengan para pejabat di sana mengenai kemungkinan putaran kedua negosiasi dengan Washington.
Ia kemudian meninggalkan Islamabad menuju Moskow untuk melakukan pembicaraan dengan para pejabat Rusia.
Iran dan AS mengadakan pembicaraan di Islamabad pada 11-12 April tetapi gagal mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik mereka.
Negosiasi tersebut dilakukan setelah Pakistan menengahi gencatan senjata selama dua minggu pada 8 April, yang kemudian diperpanjang oleh Trump.
Meskipun upaya untuk putaran pembicaraan berikutnya sedang berlangsung, beberapa poin yang masih menjadi kendala dikatakan adalah Selat Hormuz, blokade AS terhadap pelabuhan Iran, dan hak Iran untuk memperkaya uranium.
Belasan kapal perang AS termasuk tiga kapal induk AS (USS Gerald Ford, USS Abraham Lincoln dan USS George Bush) masing-masing dengan 75-an pesawat tempur, tiga pesawat serang amfibi (USS Tripoli, USS Boxer dan USS New Orleans) dengan ribuan marinir siap menyerbu pantai Iran jika gencatan senjata berakhir.
Selain itu ada pula ribuan anggota Brigade Lintas Udara 82 AD AS yang sudah disiapkan untuk sewaktu-waktu diterjunkan di titik-titik strategis di wilayah Iran.
Iran pun sudah menyiapkan ratusan ribu anggota Pasukan Garda Revolusi (IRGC) dan tentara regulernya untuk menhadang lawan.
Yang jelas, jika perang berlanjut, yang paling sengsara adalah rakyat Iran, apalagi jika AS meghancurkan prasarana dan sarana publik termasuk pembangkit listrik, jalan dan jembatan. (Anadolu/CNN/ns).




