
WACANA pembelian 48 unit pesawat tempur Rafale buatan Dassault Aviation, Perancis ramai di media sepulang lawatan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto dari negeri tersebut beberapa waktu lalu.
Perancis memang tak cuma dikenal sebagai produsen anggur dan keju ‘haute couture’ atau kelas atas, tetapi juga beragam alutsista, bersaing dengan pemain global seperti AS, Rusia, Inggeris dan China.
TNI-AU memang belum akrab dengan pesawat tempur Perancis, namun tank-tank ringan AMX-13 sudah digunakan oleh satuan kavaleri TNI-AD sejak era 1960-an sampai kini, kemudian rudal-rudal permukaan ke permukaan Excocet MM-38 yang dipasang di kapal-kapal TNI-AL dan panser amfibi AMP-10 yang digunakan Korps Marinir.
Di palagan Malvinas (Falkland) antara Inggeris melawan Argentina pada 1982, pesawat-pesawat tempur Super Etendard buatan Perancis yang dilengkapi rudal dari udara ke permukaan Excocet AM-38 berhasil menenggelamkan kapal perang Inggeris HMS Sheffield dan kapal pengangkut pasukan HMS Sir Galahad.
Inggeris dengan mesin perang raksasa yang dimilikinya sempat terkejut pada awl-awal konflik atas kemampuan AU Argentina melakukan perlawanan, walau akhirnya Falkland dengan mudah direbutnya.
Pesawat-pesawat tempur Mirage Perancis milik AU Israel berdampingan dengan pesawat-pesawat buatan AS seperti A-4 Sky Hawk dan F-16 Fighting Falcon, berhadapan dengan MiG-21 Fishbed dan MiG-23 Flogger Uni Soviet milik Suriah dan Mesir di medan Timur Tengah tahun 1970-an sampai 1980-an.
Walau belum pernah teruji (combat proven) dalam pertempuran udara, (dog fight) jet jet tempur Perancis ikut ambil bagian dalam operasi terbatas koalisi internasional di era ’80 hingga tahun 2000-an pada Perang Teluk, operasi di Afghanistan, konflik Kosovo dan Libya serta penumpasan kelompok ISIS di Irak dan Suriah.
Jika jadi dibeli, pesawat-pesawat tempur Rafale bakal melipat gandakan daya pukul TNI-AU, bedampingan dengan Sukhoi SU-27 dan SU-30 buatan Rusia yang sudah ada, juga 11 unit SU-35 dan 24 unit F-16 Blok 72 Viper buatan AS yang akan tiba bertahap sampai 2024.
Menurut catatan, Rafale yang masuk pesawat tempur generasi 4.5 berkemampuan siluman dibandrol sekitar 115 juta Euro atau sekitar Rp 1,5 triliun per unit tergantung varian dan persenjataannya (ada yang kursi tunggal atau ganda serta versi yang digunakan di kapal induk).
Meski bukan murni berkualifikasi siluman, menurut perusahaan pembuatnya, Dassault, bahan komposit dan pola bergerigi di tepi sayap dan kanard (sayap kecil) Rafale berperan mengurangi daya pindai radar musuh, sementara sistem persenjataannya terintegrasi secara elektronik.
Berkecepatan sampai 2.300 Km per jam (lebih 2,2 Mach), Rafale yang bersayap delta dipadukan dengan kanard merupakan pesawat tempur multi peran, mampu menggembol berbagai konfigurasi senjata, baik di badan mau pun pada rakrak di kedua bentang sayap seperti rudal-rudal udara ke darat (air to surface missile – ASM) dan udara ke udara (Air to Air Misiile- AAM, bom-bom yang dipandu laser serta kanon 30 mm.
Rafale mengaplikasika fitur khas jet tempur generasi kelima yakni sistem “passive electronically scanned array” (PESA) RBE2 buatan Thales Ingeris yang bisa melacak posisi lawan dalam pertarungan jarak dekat (dog fight).
Selain pertempuran udara, Rafale juga mampu menarget musuh di permukaan tanah, dipandu pemindai generasi mutakhir Optronics’s Reco buatan Thales dan juga pemindai elektro optik Damocles.
Bisa bawa Bom Nuklir
Rafale yang juga bisa membawa senjata nuklir, keandalannya bisa dipersandingkan antara lain dengan pesawat tempur konsorsium Eropa Typhoon, F-15E Eagle, F-18E/F Hornet dan F-16 Viper buatan AS, MiG-35 Rusia dan JAS-39 Grippen, Swedia.
Namun menurut pengamat militer Connie Rahakundini, dalam pengadaan pesawat, yang penting adalah transparansi, termasuk penganggarannya, sehingga manfaat alutsista yang dibeli menjadi optimal.
Ketertutupan program pertahanan termasuk pengadaan alutsista diduga menyebabkan terjadinya kasus-kasus “mark-up” seperti pada kasus pembelian helikopter buatan Inggeris AgustaWestland AW-101 yang melibatkan petinggi TNI-AU dan pembelian F-16 yang pelakunya Brigjen Teddy Hernayadi dihukum seumur hidup.
Connie mengingatkan, misalnya program alih teknologi atau litbang yang disertakan dalam pembelian alutsista atau sistem pertahanan, jangan sampai, hanya menjadi “akal-akalan” hingga berujung pemborosan anggaran.
Ia juga menyayangkan, belum dirumuskannya konsep pembangunan pertahanan yang menentukan arah strategis ke depannya, misalnya jika RI menetapkan menjadi kekuatan maritim pada 2045, maka industri dan pengadaan alutsista harus diarahkan ke sana.
“Misalnya jika TNI-AL ingin tampil menjadi kekuatan samudera biru (tidak sekedar penjaga pantai-red), tentu diperlukan kapal induk atau kapal-kapal perang lebih besar (kelas cruiser atau penjelajah atau kelas perusak atau destroyer-red).
Pembelian alutsista selayaknya tidak hanya mengacu pada ketersediaan anggaran saja, tetapi sesuai peran strategis dari konsep pertahanan yang sudah digariskan sebelumnya.




