
RAMALLAH – Menteri Kesehatan Palestina Mai al-Kaila mengatakan ada empat kasus baru dicatat di kota Ramallah dan Hebron di Tepi Barat, menjadikan jumlah total infeksi di wilayah yang diduduki menjadi 52, termasuk 17 pemulihan.
Kementerian juga melaporkan kasus pertama dilaporkan dari Jalur Gaza, yang sebelumnya dinyatakan masih bersih dari virus tersebut, yang secara resmi dikenal sebagai COVID-19.
Anadolu melansir, pasien positif di Gaza merupakan dua penumpang yang kembali dari Pakistan Kamis lalu dan mengumumkan mereka telah didiagnosis positif corona.
Blokade yang diberlakukan setelah pengambilalihan Hamas 2007, dan telah memutuskan Gaza dari seluruh dunia membuat wilayah tersebut belum terpapar virus corona.
Sebelumnya Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan blokade, divisi politik Palestina dan tiga serangan Israel selama 12 tahun terakhir telah membuat sistem perawatan kesehatan di Gaza kewalahan dan kekurangan sumber daya.
“Sistem kesehatan tidak akan mampu menangani ratusan atau ribuan kasus, jadi hal terbaik di sini adalah tidak adanya penyakit (COVID-19),” ungkap Abdelnasser Soboh, direktur WHO di Gaza, mengatakan kepada Al Jazeera.
Soboh mengatakan tidak ada pakaian pelindung yang cukup untuk pekerja medis atau peralatan perawatan intensif dan ventilator yang semuanya penting untuk memerangi wabah potensial.
Hanya ada 62 alat ventilasi di seluruh Gaza, lebih dari dua pertiganya sudah digunakan oleh pasien lain. Sedangkan untuk mendeteksi coronavirus, hanya ada dua alat tes, cukup untuk memeriksa 190 orang, kata Soboh.
“Tidak ada dana untuk membeli peralatan, dan jika uang tersedia, ada kelangkaan global,” tambah Soboh.




