CALAIS—Tiga perempat pengungsi yang mendiami kamp di kota pelabuhan Calais mengaku pernah mengalami tidak kekerasan yang dilakukan polisi. Tidak hanya dipukul, banya di antara mereka yang juga mengalami pelecehan seksual.
Penelitian yang dilakukan oleh Help Refugees juga menunjukkan, lebih dari setengah pengungsi juga mengalami tindakan kekerasan yang dilakukan warga. Mereka terutama yang berafiliasi dengan kelompok konservatif kanan.
Survei yang dilakukan Refugee Rights Data Project dan Help Refugees menemukan, mayoritas pengungsi telah mengalami hal yang “buruk” atau “sangat buruk” ketika berhadapan dengan polisi. “Survei ini menujukkan kebanyakan pengungsi mengalami masalah kesehatan selama mereka berada di kamp,” demikian salah satu isi laporan yang disitat melalui RINF.COM, Senin (14/3/2016).
Pemerintah Perancis telah memutuskan untuk menutup “Jungle Camp” yang selama ini dihuni para pengungsi. Polisi sudah dikerahkan ke kawasan ini awal Maret lalu dan terlibat bentrok dengan pengungsi.
Jungle Camp adalah sebutan untuk kawasan yang didiami para pengungsi Afrika dan Timur Tengah yang ingin ke Eropa. Di kawasan ini berdiri tenda-tenda yang terbuat dari plastik dan terpal sebagai tempat tinggal sementara para pengungsi.
Posisinya yang berhadapan dengan Selat Inggris menjadikannya sebagai akses masuk bagi para pengungsi. Mereka kerap menumpangi mobil truk besar atau kapal yang bersandar untuk memasuki Inggris. Saat ini, hanya tersisa sedikit tenda-tenda kumuh di Calais.
Marta Welander dari Refugee Rights Data Project berpendapat, hasil survei ini menunjukkan bagaimana Eropa gagal menangani masalah pengungsi. “Data ini menunjukkan bahwa pihak berwenang Prancis dan Inggris sejauh ini gagal untuk mengtasi orang yang berada di kamp Calais secara bermartabat dan terhormat,” katanya.





