
BAGI rakyat Yaman, pandemi Covid-19 yang kini melanda dunia ternyata menjadi hikmah setelah Arab Saudi mengumumkan gencatan senjata sepihak di tengah konflik yang berkecamuk sejak 2015 itu.
Perang Yaman antara pasukan loyalis rezim Presiden Abdurabuh Mansour Hadi yang didukung pasukan koalisi Arab Saudi dan Uni Emirat Arab melawan pemberontak etnis Houthi pro Iran telah menewaskan ratusan ribu orang dan melahirkan jutaan pengungsi.
Aliansi UEA dan Saudi di Yaman ambruk beberapa bulan lalu karena penolakan Saudi terhadap keikutsertaan kelompok Ichwanul Muslimin (IM) yang bermarkas di UEA untuk bergabung dalam koalisi. Di Saudi kegiatan IM dilarang.
Saudi mengumumkan gencatan senjata demi alasan kemanusiaan yakni memberi kesempatan agar pemerintah Yaman lebih fokus menangani korban terinfeksi Covid-19 yang sudah terdeteksi di sana.
Keputusan yang diambil Saudi tersebut menandai terobosan pertama sejak pihak-pihak yang bertikai menyepakati gencatan senjata yang dimediasi PBB di Swedia akhir 2018, namun kemudian tidak berlanjut.
Kasus pertama adanya warga yang terkonfirmasi positif terpapar Covid-19 berasal dari Provinsi Hadramaut diumumkan di ibukota Yaman, Sanaa Jumat lalu (10/4).
Kantor berita Reuters juga merilis laporan mengenai program pelatihan bagi para perawat di sebuah RS di Sanaa untuk mengoperasikan alat bantu pernafasan bantuan dari Badan Kesehatan Dunia (WHO).
Sementara Tim otoritas kesehatan Yaman dikabarkan telah mengambil langkah-langkah yang diperlukan guna mencegah penyebaran virus yang saat ini (sampai 10/4) sudah menewaskan hampir 15-ribu dan menjangkiti lebih15 juta orang di 204 negara.
Arab Saudi sendiri yang saat ini sedang dihantui wabah Covid-19 yang bisa mengancam kelangsungan ibadah haji tahun ini, sementara ziarah keagamaan (umrah) banyak yang dibatalkan demi mencegah outbreak wabah Covid-19.
Bahkan menurut penuturan dokter yang dekat dengan keluarga istana, 150 anggota bangsawan Saudi termasuk Pangeran Faisal bin Bandar bin Abdulaziz al Saud yang juga gubenur Riyadh terpapar Covid-19, sementara Raja Salman diungsikan ke tempat peristirahatan di Laut Merah.
PBB sendiri telah menyerukan kedua pihak yang bertikai di Yaman untuk menghentikan serangan, demi melindungi warga sipil dari ancaman Covid-19.
Akibat mengalami perang selama bertahun-tahun dan invasi militer yang dipimpin Arab Saudi, Yaman menghadapi apa yang disebut PBB sebagai bencana kemanusiaan terburuk di dunia.
Kelompok-kelompok bantuan memperingatkan, jika wabah Covid-19 menerpa Yaman yang sarana dana prasarana kesehatannya porak-poranda akibat perang, dicemaskan negeri ini akan mengalami bencana kemanusiaan yang lebih parah lagi.
Semoga gencatan senjata yang tercipta sebagai “blessing in disguise” wabah Covid-19 terus dipertahankan, sampai rakyat Yaman bisa menghirup udara perdamaian yang langgeng. (AP/Reuters/NS)




