Di-Lockdown Israel Lebih Menyakitkan dari Lockdown Corona

Ketua Palestinian Cultural Organization of Malaysia (PCOM) Muslim Imran. (Foto file – Anadolu Agency)

KUALA LUMPUR, – Malaysia memperpanjang Lockdown atau Movement Control Order (MCO) semacam karantina wilayah karena wabah Covid-19 hingga 28 April 2020 mendatang.

Banyak warga Malaysia yang merasa kesulitan hidup di bawah kebijakan tersebut. Namun bagi rakyat Palestina dikarantina oleh Israel lebih pahit ketimbang karantina wilayah karena Covid-19 itu.

Ketua Palestinian Cultural Organization of Malaysia (PCOM) Muslim Imran menyatakan pembatasan pergerakan dan hidup di bawah jam malam adalah teman warga Palestina sehari-sehari.

“Ini bukanlah hal baru bagi kami. Banyak dari kami hidup di bawah pendudukan dan jam malam dari Israel,” ujar Muslim Imran dari Kuala Lumpur kepada Anadolu Agency pada Jumat (17/4/2020).

Imran mengatakan warga Palestina selama ini hidup kekurangan listrik. Di wilayah Tepi Barat dan Gaza, kata dia, bangsa Palestina tidak dapat menikmati listrik dalam 24 jam sehari karena sanksi Israel atas BBM.

Pria asal Tepi Barat ini juga mengenang bagaimana pasukan Israel membatasi warga Palestina untuk mengunjungi Masjid Al-Aqsha. Walaupun rumahnya hanya setengah jam dari Masjidil Aqsha, banyak warga berumur di bawah 50 tahun yang harus minta izin dulu ke Israel untuk ibadah.

“Sehari-hari kami mengalami yang lebih buruk dari MCO di Palestina,” ujar Muslim yang datang ke Malaysia sejak 2003 di usia 17 tahun.

Akibat lockdown Israel, kata Imran, warga Palestina hidup di bawah garis kemiskinan dan lebih dari 50 persen adalah pengangguran.

Namun Imran memahami hidup di bawah MCO bukanlah hal mudah. Segala akses transportasi dan pergerakan sangat dibatasi.

Imran pun turut bersimpati kepada warga Malaysia dan masyarakat dunia yang mengalami masa-masa sulit ini.

Dia juga berdoa agar orang-orang yang terkena infeksi Covid-19 dapat segera sembuh.

Advertisement